Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Penanganan Kacang Tanah Pasca Panen Cegah Aflatoksin


   Share :


Net

Oleh: Laily Rahmawati

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) IPB Prof Okky Setyawati mengatakan penanganan pascapanen menjadi kunci penting untuk menghasilkan kacang tanah yang terhindar dari serangan Aflatoksin. "Untuk memperoleh kacang tanah yang layak dapat dilakukan dengan penanganan pascapanen yang layak," katanya di Bogor, Jumat (29/7).

Penanganan pascapanen yang layak di antaranya dengan melakukan pemisahan biji utuh dan biji keriput dan biji rusak sebelum penyimpanan. Selain itu juga penggunaan jenis kemasan yang mampu minimalisir serangan A flavus menjadi faktor penting. Penanganan pascapanen yang layak untuk mencegah dan mengendalikan serangan Aspergillus Flavus dan kontaminasi aflatoksin pada kacang tanah menjadi judul orasi ilmiah yang disampaikan Prof Okky hari Sabtu (30/7).

Menurut Prof Okky, kebutuhan pangan dan pakan bermutu baik sangat penting untuk menjamin keamanan pangan. Produk olahan pangan dan pakan harus bebas dari kontaminasi mikotoksin seperti aflatoksin, toksi Fusarium, dan okratoksin. "Karena mikotoksin berpengaruh terhadap kesehatan manusia dan hewan piaraan," katanya.

Berdasarkan hasil penelitian, informasi mengenai mikotoksin pada bahan pangan dan pakan merupakan hal penting, terutama di negara yang beriklim tropis, lembap dan sedang berkembang seperti Asia Tenggara.  Apabila mikotoksin tidak sengaja termakan oleh manusia atau hewan piaraan, menyebabkan mikotoksis. Contohnya aflatoksin telah lama diketahui sebagai penyebab kanker hati. "Aflatoksin dihasilkan oleh galur-galur tertentu Aspergillus flavus, A. parasiticus dan A. nomius," katanya.

Ia mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan di tiga kabupaten yakni Cianjur, Pati dan Wonogiri, mengukur serangan A. flavus dan kontaminasi aflatoksin B1 (AFB1) pada kacang tanah lokal dan impor. "Kami juga melakukan kajian paparan asupa AFB 1 dari produk olahan kacang tanah di wilayah Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor," katanya.

Hasil kajian menunjukkan resiko kanker akibat paparan AFB1 pada anak-anak dewasa masing-masing adalah 193 dan 115 kanker per tahun per 1.000 orang. Serangan A flavus dan kontaminasi aflatoksin dilakukan pada kacang tanah yang dikemas dalam beberapa jenis kemasan dan pada kondisi atmosfer terkendali. Kandungan AFB1 paling rendah terdapat pada biji kacang tanah dengan kadar air awal aman (8 persen), disimpan selama enam bulan di dalam karung goni dan bagian dalamnya dilapisi dengann kantong polietilena tipis yang mempunyai laju transmisi uap air sebesar 1 g/m2/24 jam atau lebih. "Bila dibandingkan dengan kacang tanah yang dikemas dalam karung goni, karung polipropilena, dan karung goni yang bagian dalamnya dilapisi polietilena tebal dengan laju transmisi uang air sebesar 1,16 g/m2/24 jam," katanya.

Pada kacang tanah yang dikemas dalam tiga jenis kantong plastik, kandungan AFB1 paling rendah terdapat pada kacang tanah yang dikemas di dalam kantung plastik OPP 30/PE 15/LLDPE 80 pada kondisi oksigen rendah (konsentrasi oksigen pada awal penyimpanan kurang lebih 10 persen) dan disimpan selama lima bulan dibandingkan dengan kantung plastik NY 15/PE 15/LLDPE 80 dan NY 15/PE.

Prof Okky menegaskan, pengaruh kualitas fisik terhadap serangan A. flavus dan kontaminasi AFB1 telah diteliti pada 11 sampel kacang tanah yang diperoleh dari satu grosir dan dua pengecer di pasar tradisional di Jakarta. Setiap sampel dipisahkan antara biji utuh, biji keriput, dan biji rusak. "Hasilnya menunjukkan persentase serangan A. flavus dan kandungan AFB1 paling tinggi terdapat pada biji rusak, diikuti biji keriput dan biji utuh," katanya.



Tags :