Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Mendorong Pengembangan Kelapa Untuk Sejahterakan Petani


   Share :


Wirnata

Oleh: Roy Rosa Bachtiar
       Sebagai negara yang berada di kawasan beriklim tropis, pohon kelapa jamak ditemui di hampir seluruh area kepulauan di Indonesia, terutama kawasan pesisir dan dataran rendah. Hal ini menjadikan kelapa sebagai salah satu produk alam yang menjadi komoditas utama yang intervensi sejumlah kearifan lokal pada budaya di dalam negeri. Dari makanan, tradisi adat hingga industri modern tidak lepas dari pengaruh tanaman yang masuk ke dalam jenis palma ini.
       Belum lagi, bagi mayoritas penduduk Indonesia yang masa kecilnya mengikuti kegiatan Pramuka. Mereka ditanamkan paham bahwa kelapa merupakan tanaman yang serbaguna karena setiap bagiannya dapat bermanfaat. Meski telah mendarah daging, patut diakui penggunaan atau lebih tepatnya pemanfaatan kelapa masih belum optimal. Indonesia boleh berbangga dengan luas lahan tanaman kelapa terbesar di dunia yakni 3,6 juta hektar dengan produksi tahunan  berada di urutan kedua di dunia setelah Filipina. Deputi Direktur Pengembangan Sistem Informasi Ekspor Kementerian Perdagangan, Bachtiar Pangaribuan mengatakan, produksi kelapa Indonesia sekitar 2,8 juta ton per tahun.
       Filipina yang lahannya hanya sekitar 2.000.000 hektar bisa menghasilkan kelapa sebanyak dua kali lipat produksi nasional, kata Bachtiar saat ditemui dalam sebuah kesempatan di Manado. Besaran produksi yang tidak sebanding  luas lahan  karena rendahnya pengembangan dan perawatan terhadap tanaman kelapa. Sesuai data dari Balai Penelitian Tanaman Palma Kementerian Pertanian, produksi kelapa pada tiap satu pohon di Indonesia hanya sekitar 60 butir per tahun, sedangkan di Malaysia atau Filipina bisa 100 - 120 butir per tahun.
       Hal ini terjadi akibat minimnya perhatian dari petani untuk merawat dan mengelola tanaman kelapa yang mereka miliki. Kurangnya perhatian merupakan imbas dari rendahnya harga komoditas kelapa di pasaran. Untuk 2 tahun terakhir terjadi perbaikan harga kelapa seiring meningkatnya permintaan komoditas. Harapan ini dirasa penting mengingat potensi kelapa Indonesia yang dinilai terbaik di dunia yang meski hanya ekspor 25% dari produksi tahunan. Niai ekspor bisa 1 Miliar   dolar Amerika Serikat.
       Menyikap hal itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan telah meminta petani dan pelaku industri di sektor tanaman kelapa agar mengolah produknya sebelum diekspor ke luar negeri untuk meningkatkan nilai jual. Terkait potensi nilai ekspor yang masih bisa diperbesar, petani dan pelaku ekonomi tanaman kelapa diminta untuk tidak mengirim produk mentah karena cenderung merugikan. Pemerintah tidak mau ekspor komoditas mereka jika ternyata masih berupa produk mentah. Jika diolah jadi produk lain  justru menambah keuntungan.
       Sebagai sentra penghasil kelapa dunia, Indonesia memiliki enam provinsi yang menjadi basis utama produksi kelapa, antara lain, Riau dengan produksi tahunan 419.000 ton, Sulawesi Utara 270.000 ton, Jawa Timur 259.000 ton, Maluku Utara 231.000 ton, Jawa Tengah 181.000 ton dan Sulawesi Tenggara 167.000 ton. Dengan produksi yang sangat besar, Kemendag pun menyebutkan sejumlah potensi yang dapat dilirik petani untuk mengolah hasil perkebunannya agar meningkatkan nilai jual.
       Sesuai analisa yang dilakukan terhadap pasar produk kelapa, jenis permintaan mengalami peningkatan antara lain, minyak kelapa, serat kelapa dan bahan baku makanan yang mayoritas diminati oleh pasar Eropa. Minyak kelapa diminati karena kandungan gizinya yang jauh lebih sehat daripada minyak sawit. Hal ini sejalan dengan pernyataan Presiden yang menekankan agar produk minyak sawit dikurangi. Selain itu, serat kelapa dari Indonesia diminati di luar negeri karena kualitasnya yang apik, biasanya pada industri otomotif untuk bahan jok dan sejenisnya.
       Praktisi di sektor produk kelapa mengimbau para petani dan pelaku usaha pada bidang tersebut untuk menjual produknya secara unik agar meningkatkan harga jual dan keuntungan. Direktur Operasi PT Big Tree Lutfi Jamili mengatakan, kelapa miliki nilai ekonomi yang sangat tinggi jika mampu mengolahnya secara kreatif dan bernilai. Pemasaran harus dilakukan dengan unik mengingat produk kelapa untuk bahan makanan harus bersaing dengan banyak produk lainnya yang menggunakan bahan berbeda. Salah satunya olahan yang berasal dari nira kelapa yang belum banyak ditemukan produknya di pasaran.  Perusahaan tempatnya bekerja mengembangkan gula kelapa dari sadapan nira, lalu menjadikannya poin menarik dari produk mereka.
       Gula kelapa selain menarik karena masih jarang di khalayak luas, juga memiliki kandungan nutrisi yang aman bagi kesehatan. Berbeda dengan gula dari tebu yang lebih berpotensi menyebabkan diabetes. Tingkat fruktosa dalam gula kelapa hanya 3 persen, sementara glukosa dalam gula tebu mencapai 50%. Karena itu, gula kelapa baik bagi organ hati maupun kandungan gula dalam darah.
       Selain itu, produk makanan dari nira kelapa juga memiliki manfaat lain, yaitu rasa yang enak, bernutrisi tinggi, dan mengandung vitamin C serta beragam asam amino. Kandungan GI (Glycemix Index) dalam gula kelapa juga rendah, yaitu di bawah 55 sehingga lebih aman untuk hati. Pengertian Glycemix Index sendiri merupakan sebuah angka yang menerangkan seberapa cepat tubuh manusia mengubah karbohidrat dalam makanan menjadi glukosa. Makin kecil angka GI maka makin rendah dampak makanan pada kadar gula darah di tubuh manusia.
       Masih besarnya ketergantungan masyarakat dan pemerintah pada kelapa sawit dikhawatirkan akan mematikan potensi positif dari produk kelapa. Ditambah dengan stigma negatif makanan olahan kelapa yang disinyalir berdampak buruk bagi penderita kolesterol atau darah tinggi, makin menutup celah pemanfaatan kelapa. Dengan pemanfaatan varietas tanaman yang berjuluk The Tree of Life ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan aspek ekonomi petani atau pelaku industri dan aspek kesehatan di masyarakat, juga aspek lingkungan karena bisa mengurangi pembukaan area hutan yang berdampak buruk berupa bencana ekologis.
       
      



Tags :