Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

UMKM Jatim Berdayakan 12,1 Juta


   Share :


Sejumlah perempuan membuat kerajinan berbahan kain di Klinik UMKM Jawa Timur.

net

Oleh: Fiqih Arfani
      Di era digital kekinin, segala sesuatu harus mengikuti perkembangan agar tak tertinggal dan dijauhi. Tak hanya teknologi, industri dan perdagangan juga harus bersiap menghadapi, bukan malah menghindari yang berimbas pada kerugian. Provinsi Jawa Timur (Jatim) coba melakukan dengan berbagai upaya agar industri tak redup, bahkan semakin dicari akibat persaingan yang tak terkendali.
      Bagi industri yang masih menggunakan cara lama maka akan lebih besar peluangnya untuk ditinggal, sebab tidak sedikit industri-industri asing yang maju dan masuk ke pasar dalam negeri. Melihat ancaman tersebut, Pempro Jatim tak mau melihat industri lokal di wilayahnya mengecil, apalagi sampai gulung tikar karena tidak mampu menyaingi industri asing. Karena itu, Gubernur Jatim, Soekarwo berkomitmen menjaga industri lokal mampu bersaing di tingkat global lewat industri digital, terlebih karena kompetitor bukan hanya skala nasional, tapi negara lain seperti India, Malaysia, Thailand dan Vietnam.
      Melalui industri digital yang didalamnya ada proses produksi dan pemasaran, masyarakat tidak saja merambat tetapi bisa melompat dalam percepat kesejahteraan. Industri dan digital ekonomi difokuskan pada segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar tumbuh inklusif dan berkelanjutan. Menurut Pakde Karwo, sapaan akrabnya, UMKM miliki tiga faktor yang membuatnya bertahan dalam kondisi ekonomi yang krisis. Pertama, UMKM menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
      Kedua, pelaku usaha UMKM memanfaatkan sumber daya lokal sehingga sebagian besar kebutuhan UMKM tidak andalkan barang impor. Ketiga, bisnis UMKM tidak ditopang dana pinjaman bank, melainkan dana sendiri. Dengan kondisi seperti itu, saat suku bunga bank melambung, UMKM yang kini tercatat 12,1 juta unit tidak terpengaruh, bahkan telah menjadi backbone dan buffer zone yang mampu menyelamatkan negara dari krisis.
      Berdasarkan sensus ekonomi Badan Pusat Statitik (BPS), pada 2006 jumlah UMKM Jatim hanya 4,2 juta dan pada 2012 meningkat jadi 6,8 juta, lalu terus meningkat dan tumbuh pada 2016 menjadi 12,1 juta UMKM atau meningkat pesat 78% dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 18.948.210 orang. Dilihat dari kategori skala usaha, usaha mikro dominasi yakni 95,72% diikuti usaha kecil 3,84% dan usaha menengah 0,45%.  Dari sisi sektor, mayoritas UMKM di Jatim bergerak pada sektor pertanian yaitu 7.503.399 unit (62%) terhadap perekonomian Jatim per 2016, UMKM berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 57,52%.
      Akibat teknologi yang berkembang cepat, sektor e-commerce atau perdagangan elektronik dan ekonomi digital harus dikembangkan, caranya pemerintah meluncurkan program Making Indonesia 4.0 sebagai tanggapan atas fenomena global tentang revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0, mendesak adanya perubahan tata kelola industrialisasi maka penggunaan teknologi informasi yang lebih mutakhir dalam proses produksi, distribusi maupun dukungan permodalan sistem.  
      Jatim kini menerapkan 7 bentuk layanan e-government yang mampu menjadi modal dasar bagi pemerintah untuk industrialisasi digital. Tak berlebihan bila Jatim dianugrahi penghargaan The Best Smart Governance  kategori Smart Province dari City Asia Center for Smart Nation. Dengan manfaatkan teknologi digital, suatu usaha baik skala besar atau kecil akan memperoleh banyak manfaat, di antaranya efisiensi proses bisnis, peningkatan kinerja dan layanan maupun perluasan akses pemasaran. Sebagai contoh keberhasilan digitalisasi melalui platform e-commerce adalah Bukalapak dan Tokopedia yang menjadi marketplace bagi UMKM dan miliki kurang lebih 2,7 juta pelaku UMKM.
      Ia mencontohkan, salah satu fokus dari pemanfaatan ekonomi digital adalah di industri manufaktur yang miliki kinerja baik, yakni pada triwulan I Tahun 2018, industri manufaktur mikro dan kecil di Jatim tumbuh 14,42% atau berada di atas rata-rata nasional yang tumbuh 5,25%,  manufaktur sedang dan besar tumbuh 7,45% di atas rata-rata nasional 5,01%. Tingkat pertumbuhan industri manufaktur ini terbukti mampu mengangkat PDRB Jatim menjadi Rp 219 triliun pada tahun 2017 yaitu 92,48% dari masyarakat dengan industri UMKM selaku penopang utama.
      Secara umum, sistem smart province yang dibangun miliki 6 dimensi yaitu Smart Governance, Smart Economy, Smart Mobility, Smart Environment, Smart People dan Smart Living. Smart governance berorientasi pada tata kelola pemerintahan berbasis elektronik yang terpadu dan saling terhubung antarsatu aplikasi dengan aplikasi lainnya, semisal aplikasi pelayanan publik seperti perizinan dan administrasi rumah sakit harus terhubung dengan aplikasi kependudukan sebagai basis data.
      Smart economy yang berfokus pada pembangunan aplikasi e-commerce dan marketplace yang terkoneksi dengan data ketersediaan bahan baku secara digital untuk menyambut era revolusi industri 4.0. Smart economy membangun aplikasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan di bidang ekonomi seperti aplikasi untuk memprediksi inflasi dan monitoring ketersediaan dan harga bahan pokok.
      Smart Environment telah dibangun Sistem Informasi Geografis yang menyediakan informasi spasial di lingkungan Pemprov Jatim seperti informasi spasial sungai, daerah irigasi, infrastruktur pengairan serta informasi spasial curah hujan.



Tags :