Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

WJNC Perkuat Yogyakarta Sebagai Kota Budaya


   Share :


net


Oleh: Mario Sofia Nasution
       Sore itu jalanan Malioboro tak seperti hari-hari biasanya. Kepadatan lalu lintas di jalan yang menjadi urat nadi Kota Yogyakarta itu seakan-akan hilang.Barisan bangku taman di jalan satu arah itu terlihat kosong. Ratusan pejalan kaki yang setiap hari menapaki pedestrian juga berkurang dibanding hari biasanya. Selain itu pedagang yang berjejer di sepanjang jalan itu terlihat mulai membenahi dagangan mereka. Dagangan berupa oleh-oleh khas Yogyakarta yang biasanya dijual hingga tengah malam, kini harus ditutup sementara.
       Saat itu perhatian masyarakat Yogyakarta tertuju pada beberapa ratus meter ke arah utara Jalan Malioboro. Ya, tepatnya simpang empat Tugu Pal Putih, secara perlahan jumlah kendaraan melintas dari Tugu menuju Margo Utomo semakin berkurang dan akhirnya ditutup untuk akses kendaraan. Terlihat petugas menata besi pembatas yang diletakkan di sepanjang jalan yang ditutup untuk akses kendaraan sore itu. Jalanan digunakan sebagai jalur arak-arakan wayang orang dalam ajang Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2018. Sejak 3 tahun terakhir, Pemkot Yogyakarta berupaya kenalkan kegiatan.
        Saat itu Minggu (7/10), jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, langit yang tadinya kemerah-kemerahan perlahan menjadi gelap. Lampu-lampu yang dipasang di ruas Jl Sudirman, Jl Mangkubumi dan Jl Margo Utomo kian menegaskan kota itu sedang berpesta.  Suasana begitu meriah, ribuan orang terlihat berdesakan.  Simpang Empat Tugu Pal Putih yang menjadi pusat kegiatan juga disulap menjadi pentas dan dilengkapi dua tenda utama. Tugu Pal Putih dipenuhi warna-warni yang memukau.  Alunan musik tradisional yang dibalut musik modern membuat pengunjung berteriak, belasan penari pria dan wanita lari menuju ke depan tenda utama. Mereka lakukan koreografi dan menikmati hentakan musik yang diikuti goyangan Japemete.
       Musik dan goyangan tersebut sepertinya khusus dibuat untuk memeriahkan acara itu dan sebagai obat lelah bagi mereka yang akan menampilkan karya mereka dalam ajang WJNC 2018 ini. "Pawai wayang istimewa, wayang jogja night carnival. Pawai wayang istimewa, Japemete goyangannya. goyang wayang ha e ha e", begitulah lirik musik yang membuat tamu undangan dan pengunjung kembali bersemangat dan ikut bergoyang menikmati meriahnya kegiatan malam itu.
       Arak-arakan wayang dari 14 kecamatan mulai menampilkan karya mereka. Setiap kecamatan diminta menampilkan karya dalam bentuk tokoh perwayangan. Muali dari Rama Shinta, Rahwana, naga dan berbagai macam karya masyarakat setempat ditampilkan. Setiap kecamatan diberikan waktu dua menit untuk menampilkan karya dalam bentuk kostum, gerakan, tari dan patung.
       Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X mengatakan, mewujudkan wayang dalam sebuah atraksi seni jalanan menunjukkan bahwa seni itu adaptif. Wayang yang merupakan budaya tradisi dapat berpadu dalam bentuk karnaval. Kolaborasi antara kesenian wayang dalam bentuk wayang kreatif yang ditampilkan oleh kelompok masyarakat di Kota Yogyakarta juga diharapkan menjadi refleksi bagi seluruh warga Yogyakarta dalam meneguhkan jati diri mereka dan jati diri Kota Yogyakarta yang berusia lebih dari dua setengah abad. Proses pembangunan Kota Yogyakarta harus tetap berpijak dan berakar kuat pada filosofi kelahiran kota. Pendiri Kota Yogyakarta tidak akan pernah menyangka jika Yogyakarta akan tumbuh sebagai kota yang dinamis dan penuh kreativitas.
       Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan, mencanangkan Oktober sebagai bulan perayaan ulang tahun plus promosi wisata Kota Yogyakarta. Pada Oktober merupakan bulan untuk mempromosikan potensi parawisata Kota Yogyakarta, banyak pergelaran yang dilaksanakan dan puncak dari seluruh kegiatan adalah Wayang Jogja Nigth Carnaval. "Suksesnya acara ini, tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang diberdayakan, mereka telah mempersiapkan sejak dari bulan Maret dan pementasan ini, pantas untuk diapresiasi," ujarnya.



Tags :