Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Joged Pingitan Kembali Bangkit


   Share :


net


Oleh: Ni Luh Rhismawati
       Joged Pingitan dari Banjar Tegenungan dan Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar, bangkit kembali dalam ajang Bali Mandara Mahalango di Taman Budaya Denpasar, setelah puluhan tahun tenggelam.  "Seni Joged Pingitan kami yang dulu tenggelam, kini berusaha kami bangkitkan kembali," kata I Made Sukadana selaku Ketua Sekaa Joged Pingitan Tempekan Selat Singapadu, di sela pementasan di Taman Budaya Denpasar, Selasa (22/8) malam.
       Kedua sekaa (sanggar) Joged Pingitan dari kedua daerah di Bumi Seni Gianyar yakni Sekaa Seni Tabuh dan Tari Joged Pingitan, Banjar Tegenungan, Desa Kemenuh dan Sekaa Joged Pingitan Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu mendapatkan kesempatan unjuk gigi setelah sekian lama bersembunyi.  "Kami diberikan fasilitas oleh para dosen dari Universitas Udayana dan ISI untuk membangkitkan seni tradisi Joged Pingitan di wilayah kami," ujar Sukadana.
       Kedua sekaa tersebut tampil dalam Bali Mandara Mahalango ke-5 dalam garapan gelar seni kerakyatan Joged Pingitan. Menurut pengakuan Sukadana, sekaa yang dipimpinnya baru bangkit tiga bulan ini, setelah sempat eksis di tahun 1970-an. "Sekaa joged kami sempat tampil di Taman Mini di tahun 1977 dan juga bubar di tahun yang sama karena ada konflik," ucapnya.
       Antusiasme masyarakat cukup besar dalam menyaksikan kesenian kerakyatan yang berlangsung di Kalangan Madya Mandala Taman Budaya, Denpasar itu. Keramaian pun telah terlihat sebelum acara dimulai. Penampilan yang dilaksanakan secara bergantian itu didahului tabuh petegak dari tiap sekaa Joged Pingitan.
       Sekaa joged dari Tegenungan menampilkan Condong Legong sebagai persembahan pembuka, garapan kedua Joged Cilik yang ditarikan seorang gadis berusia 7 tahun, bapang cenik dan bapang gede. Untuk sekaa Joged Pingitan dari Singapadu menampilkan garapan Condong Joged Pingitan dengan lelampahan (cerita) Calonarang dan Joged Pingitan dengan menggunakan dammar (lampu dengan nyala api) yang disebut Gandrangan.
       Antusiasme dan apresiasi pun juga ditunjukkan I Wayan Dibia selaku kurator Bali Mandara Mahalango 5.  Ada satu catatan dari Dibia yakni pengibingnya supaya lebih banyak dan orang luar juga harusnya bisa naik dan ikut mengibing dengan sebelumnya dijelaskan bahwa tidak boleh saling bersentuhan.



Tags :