Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Kolaborasi Wujudkan Konektivitas Industri 4.0


   Share :


Dua orang wisatawan sedang memilih berbagai jenis lukisan pada Denpasar Festival 2017.

Wirnata

Oleh: Sella Panduarsa Gareta

Kolaborasi untuk melakukan transformasi ke arah implementasi revolusi industri 4.0 di Indonesia harus semakin diperkuat. "Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah lompatan besar di sektor manufaktur, dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara penuh. Tidak hanya dalam proses produksi, juga di seluruh rantai nilai agar meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam proses produksi," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara pada Workshop Pendalaman Kebijakan Industri, di Yogyakarta, Jumat (30/8).

Salah satu langkah sinergi yang tengah dilaksanakan adalah melengkapi beberapa perangkat teknologi terkini yang dibutuhkan sektor manufaktur nasional guna membangun konektivitas terintegrasi. Menurut Ngakan, banyak negara mulai menata sektor industrinya supaya mampu menopang kegiatan perekonomiannya secara menyeluruh. "Jadi, mereka telah menyiapkan diri untuk penerapan revolusi ndustri 4.0 antara lain melalui konektivitas yang kuat," katanya.

Karena itu, industri nasional perlu melakukan pembenahan, terutama pada aspek penguasaan teknologi digital yang menjadi kunci utama untuk penentu daya saing dan peningkatan produktivitas di era industri 4.0. "Misalnya, pemanfaatan teknologi Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi, serta Virtual Branding," katanya.

Melalui peta jalan Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan Presiden Joko Widodo pada April 2018, pemerintah dan para pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama dan arah yang jelas dalam memacu pertumbuhan dan daya saing industri nasional di kancah global. Aspirasi besar yang ditetapkan yakni menjadikan Indonesia masuk pada jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. "Jadi, semua pihak harus bergerak bersama, karena Making Indonesia 4.0 juga merupakan agenda nasional," kata Ngakan.

Bahkan, peta jalan tersebut diyakini dapat membangun optimisme yang positif. "Apalagi, Indonesia memiliki modal besar untuk sukses menerapkan industri 4.0. Setidaknya, terdapat dua hal yang mendukung pengembangan industri di era digital, yaitu pasar yang besar dan jumlah sumber daya manusia yang produktif seiring dengan bonus demografi," katanya.

Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses bisa mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil 1-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun bisa naik dari baseline 5% menjadi 6-7% selama 2018-2030. Selain itu, angka ekspor netto akan meningkat kembali sebesar 10% dari PDB. Juga terjadi peningkatan produktivitas dengan adopsi teknologi dan inovasi, serta mewujudkan pembukaan lapangan kerja baru 10 juta orang pada  2030 .

Guna mencapai sasaran tersebut, tahap awal implementasi Making Indonesia 4.0, ada 5 sektor industri yang diprioritaskan menjadi pionir yakni makanan dan minuman, tekstil dan pakaian,  otomotif,  kimia dan elektronika. Sektor industri prioritas itu diyakini berdaya ungkit besar dalam  penciptaan nilai tambah, perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lain dan kecepatan penetrasi pasar.



Tags :