Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Jeritan Korban Gempa Lombok Dari Daerah Terisolir


   Share :


Seorang ibu melihat kondisi rumahnya yang rusak akibat gempa.

net

Oleh: Sadim BP

"Air pak, air, air, air," pinta salah seorang anak yang berdiri di pinggir jalan utara Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, memegang kardus bertuliskan sumbangan korban gempa".

 Jeritan hatinya mewarnai kondisi warga yang berada dekat dengan episentrum gempa dahsyat berkuatan 7 pada Skala Richter (SR), Minggu (5/8) malam.  Dengan gambaran kondisi itu, kata terisolir mungkin pantas diberikan kepada mereka yang berada jauh dari Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Gempa Lombok, di pusat pemerintahan Kabupaten Lombok Utara, Lapangan Tanjung. Begitu juga dengan kondisi warga yang ada di tenda pengungsian. Beratapkan terpal seadanya tanpa ada kardus yang mirip dengan barang bantuan logistik, banyak terlihat di kawasan punggung perbukitan, salah satunya di Desa Selengan, Kabupaten Lombok Utara.

Kawasan perbuktian dengan akses jalan sempit menanjak dan berkelok, terpampang di sepanjang kiri kanannya derita korban gempa. Rumah yang sudah rata dengan tanah serta semrawutnya tenda darurat di tanah agak lapang, cukup mewakili kondisi mereka yang sangat membutuhkan perhatian.

Jeritan hati si anak pun telah terjawab dari kondisi kelokan saluran sekunder air, mulai dari hulu hingga hilir perbukitan terlihat kering. "Air susah, saya saja sudah tiga hari tidak mandi," kata Sahabudin, warga Dusun Tompo Indah, Desa Selengan, Kabupaten Lombok Utara

Kemalangan Sahabudin juga sebanding kondisi tanki air dan bak mandi yang menumpuk kering di setiap sudut perkampungan. Bahkan karena gempa pada malam hari pukul 19.46 Wita itu menyebabkan sebagian kondisi jalan di pinggiran tebing curam yang nampaknya masih dalam proses pengerjaan mengalami keretakan. "Makanya dipasangi garis polisi biar tidak ada warga ke sana, rawan longsor," ujar Sudir, warga yang tinggal di atas dusun tempat Sahabudin, Dusun Sambik Jengkel Timur.

 Meski dengan kondisi yang demikian, Sudir bersama warganya mulai bertahan hidup dengan cara swadaya, baik untuk kebutuhan perut sampai tempat melepas lelah dan berlindung dari cuaca dinginnya malam. "Apa yang masih tersisa di rumah, itu yang kami manfaatkan. Tempat berteduh malam yang penting pak, terpal dan selimut, itu yang kita upayakan, buat anak-anak dulu," ujarnya.

Kekhawatiran itu muncul dari dusun tempat tinggal Halimah, seorang ibu yang mempunyai anak balita. Dari kawasan terpencil dengan permukiman jarang penduduk, Halimah mengkhawatirkan kesehatan anaknya bila terus berada di tenda pengungsian. Menyikapi kabar yang menyebut, masih banyak warga pengungsian, khususnya yang bertahan di area perbukitan, belum tersentuh bantuan logistik, prajurit TNI di bawah komando Dansatgas Penanganan Darurat Bencana (PDB) Gempa Lombok mengambil kebijakan. Bantuan logistik bagi warga pengungsian di daerah perbukitan, mulai disalurkan dengan manfaatkan segala cara.  "Untuk menuju daerah pengungsian di area perbukitan, kita gunakan trail. Kalau medannya tidak memungkinkan, prajurit langsung pikul ke atas," kata Dansatgas PDB Gempa Lombok Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, Minggu (12/8).

Dalam upaya penyalurannya, Danrem 162/Wira Bhakti ini telah meminta kepada seluruh pasukan yang berada di bawah komandonya untuk secepat mungkin menjangkau seluruh daerah pengungsian yang bertahan di area perbukitan.  "Apapun kita usahakan agar semua bantuan yang diterima posko dapat disalurkan secara merata," ujarnya.

Apabila masih ada warga pengungsian yang belum atau pun kekurangan bahan logistik, diharapkan kepada seluruh elemen masyarakat untuk kerja samanya dengan meneruskan informasi tersebut.  "Dalam kondisi ini, tidak menutup kemungkinan masih ada warga yang belum dapat. Jika ada informasinya, warga dapat melapor langsung ke Posko PDB," kata Rizal.



Tags :