Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Lebaran Topat, Merawat Tradisi


   Share :


Hernawardi


       Sebanyak 3000-an biji ketupat tersusun rapi mengerucut ke atas mirip reflika sebuah. Di seputar monumen ketupat itu tadi dihiasi berbagai ornamen membentuk janur yang berbahan daun kelapa muda. Di sekeliling tempayan yang dijadikan wadah penahan tumpukan ketupat tadi dikeliling berbagai lauk pauk. Di situ ada opor ayam, opor telur ayam, daging sapi opor, kelompok polong-polongan yang sudah digoreng dan dibumbui ala kadarnya, urap-urap, hebatan. Tak ketinggalan aneka  jenis panganan tradisonal berbahan ketan putih dan hitam tertata rapi. Jenis buah-buahan hasil bumi seperti pisang, nanas, apel, jeruk, salak, anggur hiasi media dimaksud.
            Tak lama berselang saat tetua adat Lombok memberi komando agar usungan ketupat tadi dipraje (diangkat) sambil berjalan menuju mimbar acara. Di barisan depan ada iring-iringan para pengawal sesaji berpakaian khas Sasak dengan tertibnya menghadap sekaligus melapor kepada unsur pemerintah daerah, jika prosesi Lebaran Ketupat 2018 segera dimulai.
            Laporan usai, para pejabat dari Pemerintah provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat disertai para tokoh agama, tokoh adat gumi Sasak satu persatu mengambil ketupat yang ada dalam pengusungan tadi dan membelahnya menaruhnya di piring yang sudah disiapkan. Tak lupa berbagai jenis lauq-pauq dijadikan satu  untuk selanjutnya disantap bersama dan diikuti undangan laiinya. Masyarakatpun yang hadir membaur menjadi satu menikmati sajian ketupat yang sudah disiapkan dalam dulang (wadah).
            Beginilah prosesi Lebaran Topat (Ketupat, red) di Lombok yang diselenggarakan secara masal yang jatuh pada tanggal 7 Syawal 1438 H bertepatan dengan hari Jumat (22/6) lalu yang dipusatkan di kawasan Pantai Duduk, Senggigi, Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, NTB.
            Lebaran Ketupat di Lombok merupakan tradisi tahunan yang merupakan kalender of event pariwisata Lombok Barat. “Lebaran Topat diselenggarakan sebagai bentuk wujud syukur seorang hamba yang diselenggarakan secara massal, karena telah mampu menunaikan puasa sunnat Syawal seminggu lamanya setelah sebulan berpuasa dan dilanjutkan dengan puasa sunnat syawal,” kata Sahnan, SH budayawan Lombok.
            Menurutnya, tradisi Lebaran Topat merupakan identitas dan entitas masyarakat Lombok yang teguh memegang dan melestarikan tradisi leluhur mereka. Lebaran Topat di Lombok ditandai dengan tradisi membuat masakan khas  Lombok pada malam lebaran ketupat dimana ketupat dijadikan sebagai pengganti nasi.
            Sahnan yang juga staf Dinas Pariwisata NTB ini menambahkan, pada hari Lebaran Ketupat tiba, pagi-pagi buta sebelum waktu subuh tiba, tradisi masyarakatnya bangun pagi bergegas menuju masjid. Selepas menunaikan Sholat Subuh warganya menggelar zikir dan doa memohon keselamatan. Sesudah itu jamaah zikir dihidangkan sarapan pagi dengan menyuguhkan menu ketupat tadi.
            Tidak terhenti sampai di situ, berikutnya masyarakat berbondong-bondong melakukan nyekar (ziarah) ke makam para Walilulloh yang diyakni sebagai seorang Kyai penyebar agama Islam di Lombok. Disana mereka melakukan zikir dan doa bersama keluarga. Makam-makam orangtua yang sudah mendahuluinyapun tak pernah sepi dari tradisi ziarah makam ini. “Selesai itu barulah warga menyerbu pantai ada yang mandi berselancar menggunakan perahu sebagai anifestasi keceriaan mereka merayakan Lebaran Ketupat. (Hernawardi)



Tags :