Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Jamu Air Mancur Raih Sertifikat ISO


   Share :


net


Oleh: Ganet Dirgantara
     PT Jamu Air Mancur melengkapi standar produk dan pelayanan bertaraf internasional dengan meraih sertifikat ISO 9001:2015, sistem manajemen mutu yang memastikan pedoman operasional terbaik untuk menghasilkan produk berkualitas di pasar dunia.
     "Dengan sertifikat yang lengkap dan berstandar internasional terbaru ISO 9001:2015, Air Mancur siap untuk lebih gencar di pasar internasional. Produk kesehatan kami selama ini sudah kuat di Malaysia dan Brunei Darussalam. Kami akan lebih agresif lagi menembus pasar Afrika, Eropa, dan Timur Tengah,  ujar Aries Ikawati Arifah, Brand Manager PT Jamu Air Mancur di Jakarta, Rabu (11/7).
     Melihat potensi obat herbal sangat bear sekaligus untuk menjaga warisan budaya bangsa, perusahaan itu berkomitmen menjadikan jamu sebagai produk identitas Indonesia yang berkualitas dan bisa diterima masyarakat internasional.  "Pentingnya kepuasan pelanggan memotivasi Air Mancur terus meningkatkan kemampuan untuk menyediakan produk warisan budaya berbahan dasar alam secara konsisten yang memenuhi kebutuhan pelanggan sesuai persyaratan hukum serta peraturan yang berlaku,’’ ungkap GM HRD Air Mancur. Muji Sarjono.
      Selain ISO 9001:2015, produk Air Mancur telah meraih sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) terlengkap di Indonesia serta sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia. Perusahaan yang berdiri sejak 1963 ini juga menerapkan standar "good manufacturing practice" untuk menjamin kebersihan seluruh rangkaian proses produksi hingga pengemasan yang dilakukan dengan mesin higienis.
     Aries menjelaskan, kebutuhan pada industri obat herbal di Indonesia diperkirakan akan meningkat berlipat dengan permintaan pangan fungsional. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2010 menyebut, lebih dari separuh penduduk Indonesia konsumsi jamu dan 95% menyatakan jamu bermanfaat untuk kesehatan.
     Laman website Kementerian Perindustrian juga menyatakan omzet industri obat herbal nasional pada 2011 mencapai Rp 11 triliun, dan meningkat hingga Rp 20 triliun pada 2015.
     Euromonitor  perlihatkan pasar obat herbal mengalami pertumbuhan permintaan 9% dari tahun ke tahun; 500 juta dolar AS pada 2012, 663 juta dolar AS pada 2013, dan 800 juta dolar AS pada 2017.
     Tren kembali ke alam juga gencar disuarakan dunia internasional, sehingga permintaan terhadap produk herbal semakin meningkat di negara maju maupun berkembang.
     Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2001 menyebut,, 50-75% penduduk negara maju telah menggunakan pengobatan tradisional, termasuk obat-obat berbahan dasar alam. Sedangkan negara berkembang seperti benua Afrika, Asia dan Amerika Latin mencapai 80%.  Bahkan 85% dokter di negeri Jepang tidak hanya meresepkan obat sintetis modern, namun juga obat herbal tradisional yang telah ditanggung dalam asuransi.
     Penggunaan obat tradisional di Tiongkok juga mencapai 90%, Perancis 49%, Kanada 70% dan Amerika Serikat 42%.



Tags :