Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Stop Kekerdilan Anak Indonesia


   Share :


Sejumlah murid TK belajar menanam tanaman obat di Pak Oles Green School.

Wirnata

Stop Kekerdilan Anak Indonesia
Oleh: Aditya Ramadhan
      Satu dari tiga anak di Indonesia saat ini teridentifikasi kerdil atau stunting akibat kekurangan gizi kronik. Yang dimaksud oleh kekurangan gizi kronik adalah defisitnya gizi yang dialami dalam jangka waktu bertahun-tahun. Kurang gizi kronik pada bayi kerdil bermula dari calon ibu yang semasa remajanya mengalami anemia disertai dengan tak tercukupinya gizi. Pemenuhan gizi yang kurang kemudian berlanjut pada masa kandungan ibu hamil yang asupan gizinya tak tercukupi.
      Kondisi anak yang lahir akan makin memburuk apabila tidak mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun yang disertai dengan nutrisi dari makan yang cukup. Jika hal itu semua terjadi, kemungkinan besar anak akan tumbuh kerdil secara fisik juga secara intelegensia.
      Seorang anak diidentifikasi mengalami kekerdilan apabila tinggi badannya di bawah indikator ideal dibanding anak lain seusianya seperti dalam acuan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.  Namun yang jadi masalah bukan hanya soal penampilan fisik anak yang bertubuh pendek, tapi juga intelektualitas anak terhambat.
      Kecerdasan anak yang kerdil di bawah rata-rata anak normal. Hasil pemantauan status gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi kasus kekerdilan bayi di bawah lima tahun secara keseluruhan di Indonesia 29,6%.  Persentase prevalensi balita kerdil tersebut benar-benar mengancam sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa datang. Yang seharusnya Indonesia akan mendapat bonus demografi saat penduduk usia produktif mendominasi, menjadi beban demografi karena masyarakat usia produktif yang tidak berkualitas.
      Ancaman serius itu akan berdampak pada kerugian ekonomi. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro mengatakan hasil studi dari Bank Dunia mengungkapkan potensi kerugian ekonomi yang diakibatkan kekerdilan mencapai 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahun. Artinya jika PDB Indonesia mencapai Rp 13.588,8 triliun pada 2017, kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh kekerdilan bisa mencapai Rp 400 triliun per tahun.
      Sebaliknya, intervensi penurunan stunting akan membawa keuntungan ekonomi sebesar 48 kali lipat dari setiap investasi yang dikeluarkan. Betapa hal kecil soal asupan gizi yang terpenuhi pada seorang ibu dan anaknya bisa berdampak pada ekonomi secara masif di kemudian hari.
      Masalah kekerdilan bukan hanya masalah kesehatan. Kasus kekerdilan terjadi disebabkan oleh multifaktor mulai dari ketersediaan pangan di suatu daerah, akses masyarakat terhadap pangan bergizi, ketersediaan air bersih, akses fasilitas kesehatan, kultur daerah yang tidak mendukung pada pemenuhan gizi dan kesehatan ibu anak, serta pengetahuan dan kesadaran masyarakat.
      Karena itu permasalahan kekerdilan di Indonesia tidak bisa ditangani sendiri-sendiri melainkan memerlukan gotong royong dari semua pihak. Berbagai program yang telah dibuat harus berkaitan satu sama lain demi penyelesaian yang menyeluruh. Pemerintah telah melakukan intervensi penanganan kekerdilan secara lintassektor melalui kementerian-lembaga yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Mulai dari penyediaan akses air bersih, fasilitas kesehatan, ketahanan pangan, akses pada pangan bergizi, hingga intervensi langsung di bidang kesehatan.
      Namun upaya yang biasa-biasa saja sesungguhnya tidak cukup untuk menekan angka kekerdilan di Indonesia yang hampir mencapai 30%. Diperlukan gebrakan dalam pelayanan dan fasilitas melalui beragam inovasi untuk mengubah perilaku masyarakat Indonesia.
      Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, hanya 20% masyarakat Indonesia yang sadar akan kesehatan. Perlu adanya dorongan 1001 macam cara agar masyarakat Indonesia miliki kepedulian akan kesehatan.  Menkes Nila memuji langkah-langkah yang telah diambil Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan membuat berbagai inovasi kebijakan yang bisa mengubah perilaku masyarakatnya lebih sadar kesehatan.
      Pemprov Gorontalo melalui Tim Penggerak PKK mengadakan program Fish To School yakni sosialisasi tentang pentingnya makan ikan bagi anak-anak sekolah, dengan tentu saja menyajikan santapan ikan bagi siswa-siswi.  Juga diadakan bazar ikan dengan separuh harga jual dari harga yang dibanderol di pasaran agar masyarakat mau konsumsi ikan. Pemerintah provinsi juga mengadakan kurir yang disertai kotak pendingin untuk memasarkan ikan ke daerah-daerah yang tak terjangkau penjualan ikan laut.
       Di Kota Gorontalo ada program Tancap (Tanda Aman Calon Pengantin) Nikah yaitu kewajiban pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin sebelum menikah sebagai upaya pengendalian penyakit dan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Calon pengantin akan diperiksa kesehatan melalui laboratorium, gula darah, HIV, sipilis dan diimunisasi TT untuk pencegahan penyakit tetanus.
      Selain itu ada pula program Syiar Germas di Kabupaten Gorontalo. Yaitu program pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi masyarakat yang dilakukan sebelum atau selepas shalat Jumat di masjid. Petugas kesehatan akan datang ke masjid-masjid untuk memeriksakan kesehatan, sosialisasi edukasi kesehatan, hingga mengadakan senam bagi masyarakat.
      Pemkab Gorontal mewajibkan sertifikat imunisasi dasar lengkap bagi anak sebagai salah satu syarat masuk taman kanak-kanak atau PAUD. Anak yang telah melengkapi imunisasi dasar akan mendapat sertifikat dan mengikuti prosesi wisuda. Seberapa besar pun upaya pemerintah dalam mengendalikan kasus kekerdilan akan sia-sia tanpa dukungan masyarakat itu sendiri. Perlu diingatkan bahwa kasus kekerdilan tidak hanya terjadi di desa atau daerah dengan ketahanan pangan dan akses air bersih yang rendah. Kekerdilan juga terjadi di perkotaan dan bahkan anak tersebut terlahir di keluarga yang berada.
      Kekerdilan bukan soal miskin atau kaya, tetapi tentang pemahaman dan kepedulian masyarakat akan kesehatan. Seorang ibu menjadi peran penentu apakah anak yang dilahirkan dan dibesarkan kerdil atau tidak. Dimulai dari pemenuhan gizi ibu saat sebelum hamil maupun saat mengandung.  Ibu juga yang menentukan budaya konsumsi dalam keluarga dengan memilih menu yang bergizi atau tidak untuk anak-anaknya.
      Kasus kekerdilan di perkotaan karena orang tua yang terlalu sibuk sehingga hanya menyediakan makanan instan yang lebih praktis. Atau cara pengolahan bahan pangan yang salah dan menyebabkan menurunnya kandungan gizi.  Tidak ada anak-anak yang menginginkan terlahir kerdil dan mereka tak berdaya dalam menentukan untuk tumbuh secara sehat atau tidak melainkan hanya bergantung kepada orang tua. Manusia dewasa sepenuhnya bertanggung jawab dalam melindungi anak Indonesia dari kekerdilan.



Tags :