Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Sirup Parijoto Mulai Diminati Masyarakat


   Share :


Oleh: Akhmad Nazaruddin

Sirup parijotho yang merupakan produk khas dari masyarakat di Pegunungan Muria, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai diminati masyarakat luar daerah. Menurut salah seorang pembuat sirup parijotho asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Sumarlan, di Kudus, Senin (25/6), parijotho selama ini hanya dijual tanpa melalui proses apa-apa sehingga hanya dijual dalam bentuk buah bersama tangkainya.

Kondisi tersebut, memaksa dirinya berfikir keras untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat dengan menggunakan parijotho yang selama ini hanya dijadikan makanan bagi orang hamil agar proses kelahirannya lancar dan mendapatkan keturunan yang sempurna.

Selain itu, buah yang banyak tumbuh di Pegunungan Muria Kudus itu, juga sangat baik untuk meningkatkan kesuburan karena buah parijotho tersebut kaya akan antioksidan. Akhirnya, pada akhir tahun 2015 dirinya mencoba membuat sirup dari buah parijotho. "Uji coba selama tiga bulan akhirnya membuahkan hasil, berupa sirup parijotho," ujarnya.

Karena masih dalam tahap uji coba, sirup hasil buatannya itu diberikan kepada para tetangga terdekatnya untuk meminta masukan. Dari 1 kg parijotho,  bisa hasilkan sirup 4 liter. "Proses pembuatannya memang membutuhkan kesabaran karena melalui proses penyaringan berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang berkualitas," ujarnya.

Setelah dianggap cocok, sirup hasil produksinya itu mulai dipasarkan melalui kios yang ada di desanya yang kebetulan memang dekat dengan kompleks wisata ziarah Sunan Muria. Kini, pemasarannya mulai memanfaatkan media sosial facebook agar lebih dikenal masyarakat luas. "Hasilnya, memang cukup bagus karena banyak pesanan yang mengalir dari pemesanan melalui medsos yang berasal dari berbagai daerah di luar Kudus," ujarnya.

Sirup parijotho yang dijual, meliputi sirup berukuran 250 mililiter, 500 mililiter, dan 600 mililiter. Harga jual untuk ukuran kecil Rp 40.000, sedang Rp 60.000 dan besar dijual Rp 90.000 per botol. Masyarakat Desa Colo kini mulai menggeluti pembuatan sirup parijotho, mengingat di desa setempat terdapat banyak tanaman parijotho. Bahkan, beberapa warga ada yang mulai mengembangkannya sebagai bahan baku pembuat manisan, puding dan minuman sari buah.

Pemkab Kudus fasilitasi pemasaran melalui pameran di sejumlah kegiatan yang menyediakan gerai untuk pelaku usaha mikro kecil menengah.  Triyanto, pembuat sirup parijotho lain mengakui dirinya berhasil membuat produk permen dari bahan buah parijotho.

Pembuatan permen tersebut, sudah mulai diproduksi sejak beberapa tahun lalu. Terkait pemasaran, masih mengandalkan penjualan di lokal Kudus serta di media sosial facebook maupun instagram. Ia berharap produk sirup maupun permen parijotho nantinya bisa menjadi makanan khas Kudus, mendampingi makanan khas lainnya, seperti jenang.



Tags :