Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Bersama Kendalikan Harga Rokok


   Share :


net


Oleh: Aubrey Kandelila Fanani
      Semua pihak diminta untuk ikut bekerja sama dalam upaya mengendalikan jumlah perokok di Indonesia agar kebijakan yang telah pemerintah buat selama ini bisa berjalan efektif.  Hal ini disuarakan seiring dengan peringatan Hari Tembakau Sedunia yang jatuh tepat pada hari Kamis, 31 Mei 2018.
      Selama ini, kata Kepala Seksi Gangguan Metabolik Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Sylviana Andinisari, program yang dijalankan oleh Pemerintah belum sepenuhnya didukung. Padahal, beberapa kebijakan sudah dilakukan agar dapat mengendalikan rokok dan perokok di Indonesia, seperti kebijakan di ruang publik yang tidak mengizinkan merokok dan harus bebas asap rokok.  Akibat minimnya dukungan ini, sampai sekarang masih terlihat orang-orang yang merokok di mal, bahkan lingkungan sekolah, yang seharusnya sudah tidak boleh.
      Pemerintah juga sudah membatasi penayangan iklan rokok di atas pukul 22.00 dan memasang gambar serta tulisan yang memperingatkan perokok. Akan tetapi, tetap saja rokok masih dibeli dan diisap. Ia mengingatkan kembali akan dampak jangka panjang paparan asap rokok, seperti kanker payudara, kanker kolon, dan kanker serviks.
      Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut kadar nikotin pada rokok di Indonesia masih relatif cukup tinggi, sebesar 4 miligram untuk kretek tangan. Angka ini masih sangat jauh jika dibandingkan dengan kadar nikotin dalam rokok yang boleh beredar di negara lain yang dibatasi maksimal hanya 1,5 mg. Kasubdit Pengawasan Produk Tembakau BPOM Moriana Hutabarat menyebut kadar nikotin yang paling banyak ditemui di pasaran Indonesia sebesar 25,5 mg untuk jenis sigaret kretek mesin.
      Moriana berharap pemerintah segera mengevaluasi dan mengubah peraturan tentang produk tembakau mengurangi kandungan zat berbahaya dalam rokok, seperti nikotin dan tar.
      Dalam PP 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, pemerintah tidak mengatur mengenai batasan kadar kandungan nikotin dan tar dalam rokok. BPOM hanya mengawasi dan menguji kandungan nikotin dan tar yang ada dalam rokok sesuai dengan yang tertulis pada kemasan. Alhasil, industri rokok dapat menentukan berapa pun jumlah kandungan nikotin dan tar dalam rokok asal kadarnya sesuai dengan yang tertulis pada kemasan.
      Tar dan nikotin pada rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit mulai dari ketergantungan, iritasi sistem pernapasan, hingga meningkatnya risiko kanker. Yayasan Jantung Indonesia juga meminta pemerintah untuk membuat agenda menyadarkan perokok akan bahaya merokok dan bahaya asap rokok demi menyelamatkan generasi mendatang.
      Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia Syahlina Zuhal mengatakan bahwa kebiasaan merokok menyebabkan inflamasi pada pembuluh darah, termasuk arteri koroner, sehingga meningkatkan risiko terjadinya sumbatan mendadak pada pembuluh arteri pada jantung.
      Secara global, epidemi tembakau membunuh lebih dari 7 juta orang setiap tahun, yang hampir 900.000-nya adalah nonperokok yang meninggal akibat menghirup asap rokok bekas. Hampir 80% dari lebih dari satu miliar perokok di seluruh dunia tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, yaitu negara-negara dengan beban penyakit terkait dengan tembakau dan kematian terberat.
      Di Indonesia, penyakit jantung koroner (PJK) menjadi penyebab kematian tertinggi dari seluruh kematian pada semua umur setelah stroke, yakni 12,9% (SRS, 2014). Data Riskesdas 2013, prevalensi tertinggi untuk penyakit kardiovaskuler di Indonesia adalah penyakit jantung koroner. Terbanyak pada tingkat ekonomi bawah dan menengah bawah.
      Di sisi lain, pembiayaan penyakit katastropik, menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Bidang Kesehatan pada 2016, habiskan biaya Rp 14,6 triliun atau meningkat dari 2015, Rp 14,3 triliun. Dari seluruh biaya tersebut, paling besar adalah biaya untuk penyakit jantung dengan peningkatan pembiayaan dibanding 2015 sebesar Rp 6,9 triliun (48,25%) jadi Rp 7,4 triliun (50,7%) pada 2016.
      Secara total kerugian makro ekonomi akibat konsumsi rokok di Indonesia pada tahun 2015 mencapai hampir Rp 600 triliun atau empat kali lipat lebih dari jumlah cukai rokok pada tahun yang sama. Kerugian ini meningkat 63% dibanding kerugian 2 tahun sebelumnya. untuk konsumsi, perokok di Indonesia membakar uang lebih dari Rp 200 triliun setiap tahun.
      Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau, Mia Hanafiah menilai kerugian yang begitu besar akibat rokok sangat tidak sebanding dengan yang didapat bangsa Indonesia, baik secara kesehatan maupun ekonomi.
      Karena itu, pemerintah harus benar-benar serius menangani ini, salah satunya dengan menaikkan harga rokok setinggi mungkin. Jika tidak bergerak cepat dan sigap kendalikan konsumsi tembakau secara serius, pemerintah terus merugi di bidang ekonomi dan masyarakat terus menderita akibat berbagai penyakit yang berujung pada kematian.
Cara Mudah Stop Merokok
Oleh: Tunggul Susilo
      Beribu-ribu, puluhan ribu, bahkan mungkin hingga berjuta-juta orang di Indonesia barangkali telah mengeluhkan sulitnya meninggalkan rokok atau berhenti merokok. Meski setiap saat mencoba berupaya untuk tidak merokok, beberapa saat kemudian sudah memegang rokok dan menyulut dengan korek api di tangan, karena tidak tahan menahan rasa ketagian atau kecanduan yang amat sangat.
      Meski setiap saat didamprat anak, istri, hingga ditegur oleh teman kantor atau tetangga di permukiman yang bangunan rumahnya berhimpit, setiap kali pula menyulut rokok lagi yang sudah berada di sela-sela jari tangan. Orang yang kecanduan rokok justru cenderung terus menambah jumlah batang rokok yang diisap, dan biasanya merokok seusai makan nasi dan lainnya atau minum minuman yang manis, seperti kopi dan teh. Data 2017, lebih dari 36,3% penduduk Indonesia menjadi perokok.
      Menkes Nila Djuwita F Moeloek saat membuka Indonesian Conference on Tobacco or Health di Balai Kartini, Jakarta, pada Senin (15/5), bahkan 20% remaja usia 13-15 tahun yang umumnya pelajar, menjadi perokok. Remaja laki-laki yang merokok bertambah banyak. Data 2016 perlihatkan peningkatan jumlah perokok remaja laki-laki,  58,8%. Kebiasaan merokok di Indonesia setiap tahun  membunuh  235 ribu jiwa.
      Dari 36,3%  (1/3) penduduk Indonesia yang menjadi perokok, yang berkeluarga maupun yang masih berstatus siswa dan mahasiswa, sebagian tentu berupaya berhenti (stop) merokok. Baik berupaya berhenti merokok atas desakan anak, istri, orang tua, guru, teman dekat, teman sekolah/kuliah atau teman kantor. Kini, di berbagai kantor hanya izinkan merokok di ruang khusus dan di lingkungan sekolah dilarang merokok, serta adanya larangan merokok di tempat umum. Tuntutan stop merokok dari diri sendiri karena kesehatan. Ingin berhenti merokok karena khawatir kena suatu penyakit yang bisa mematikan.
      Barangkali sudah jutaan orang di Indonesia yang berupaya berhenti merokok, namun mengalami kesulitan untuk meninggalkannya secara total alias gagal. Berbagai cara dilakukan, seperti memaksa mengurangi jumlah batang rokok yang disulut setiap hari, memaksa tidak membeli rokok atau berarti memaksa untuk tidak merokok, menggantinya dengan permen, menggunakan rokok herbal yang katanya justru menyehatkan, hingga mencoba rokok elektrik.
      Dari sejumlah cara dan upaya untuk berhenti merokok tersebut, ternyata metode tiba-tiba menghentikan kebiasaan merokok saat itu juga secara total menjadi cara yang sementara ini dianggap paling efektif. Upaya berhenti merokok secara total saat itu juga, dianggap paling efektif berdasarkan hasil studi perguruan tinggi tertua berbahasa Inggris, Universitas Oxford yang berlokasi di kota Oxford, Inggris.
      Cara tegas stop merokok tanpa menunggu kesempatan untuk mempersiapkannya tersebut, menurut penulis studi, Nicola Lindson-Hawley, Ph D, dianggap paling efektif, asalkan diikuti keseriusan untuk tidak kembali mencoba merokok. Hal ini berbeda dengan upaya berhenti merokok secara bertahap dengan mengurangi jumlah batang rokok yang diisap setiap harinya, yang berdasarkan pengalaman banyak orang, jarang yang berhasil.
      Untuk mendukung dan memudahkan upaya berhenti merokok tersebut, ada satu pengalaman moderat yang tampaknya perlu ditiru, yakni sebelum berhenti merokok secara total, latih terlebih dahulu supaya bisa tidak merokok seusai makan atau minum minuman yang manis. Banyak perokok yang mengatakan merokok untuk hilangkan rasa asam di mulut. Cara berlatih tidak merokok seusai makan dan minum minuman yang manis, mengalihkan perhatian. Caranya, menyibukkan diri bekerja, tangan mengetik dan tanpa hiraukan keinginan untuk merokok.
      Setelah berlatih terus menerus tidak merokok seusai makan dan minum selama berbulan-bulan, maka akan terasa biasa saja tanpa isap rokok. Setelah bisa stop rokok seusai makan dan minum, baru rencanakan untuk total tidak merokok. Kenapa berhenti merokok perlu diupayakan dengan berlatih, karena tantangan terberat untuk kembali merokok berdasarkan pengalaman banyak orang adalah seusai makan dan minum biasanya muncul kecanduan untuk merokok.
      Munculnya rasa kecanduan untuk kembali merokok, biasanya tidak tertahankan, sehingga orang yang telah berupaya berhenti merokok berhari-hari terpaksa kembali merokok dan upaya berhenti merokokpun gagal. Setelah berbulan-bulan berhasil tidak merokok seusai makan dan minum, namun masih bisa merokok pada waktu lainnya, maka tantangan terberat sudah bisa dilalui.
      Setelah tantangan terberat tidak merokok seusai makan dan minum, maka tinggal direncanakan  untuk total mulai stop merokok. Berdasarkan pengalaman banyak orang, memulai berhenti merokok saat Ramadhan bagi muslim yang tentu berpuasa, akan lebih mudah. Hal ini disebabkan selama waktu sehari penuh, sudah diniatkan untuk berpuasa, tidak makan tidak minum, tentu juga tidak merokok.
      Tantangan yang masih berat adalah saat seusai berbuka puasa dengan takjil. Rasa kecanduan ingin merokok biasanya kembali muncul. Karena itu, seusai berbuka puasa segera lakukan kesibukan berwudu dan shalat maghrib, syukur berjamaah di masjid, sehingga aktivitasnya lebih banyak dan makin lama menyita waktu dan perhatian lain.
      Setelah itu, baru makan nasi dan minum lagi, sehingga bisa memancing keinginan untuk kembali merokok. Tantangan ini bisa diatasi dengan menggosok gigi menggunakan pasta gigi. Usai gosok gigi, kembali lakukan aktivitas shalat tarawih berjamaah sehingga  terhindar dari kekuatan candu untuk merokok lagi.
      Seusai shalat tarawih, hindari aneka makanan dan minuman yang bisa memancing munculnya rasa kecanduan ingin merokok. Cukup minum air putih saja yang tidak ada rasanya. Lakukan aktivitas ala kadarnya seperti membaca, mengaji dan lain-lain hingga tiba jam istirahat, tidur malam, misalnya pukul 21.00-22.00. Bangun lagi waktu makan sahur antara pukul 03.00-04.00 menjelang subuh. Seusai makan sahur, segera gosok gigi dengan pasta gigi lagi, guna menghindari keinginan merokok.



Tags :