Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Pemanfaatan Kedelai Lokal Untuk Tempe Nasional


   Share :


net


Oleh: Laily Rahmawaty
       Kurang lebih 30 tahun Kustirah bergelut dengan kedelai mengolahnya menjadi tempe. Selama itu pula, wanita paruh baya ini menantikan suatu saat bisa memproduksi tempe dari kedelai lokal. Menurut Kustirah rasa tempe dari kedelai lokal lebih enak dibandingkan dengan kedelai impor. Rasa enak itu ia rasakan ketika memakan tempe berbahan kedelai lokal yang dibuat oleh bapaknya.
       Kustirah salah satu dari 300 pengrajin tempe dan tahu yang menetap di Cimanggu Bharata, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat sejak 30 tahun silam. Ia belajar menjadi pengrajin tempe berbekal ilmu dari orang tua. Ilmu itu diwariskan turun temurun hingga kini. Bedanya, tempe yang diproduksi saat ini kebanyakan berbahan kedelai impor.
       Kustirah khawatir jika kedelai impor yang digunakannya tidak organik. Ia pun memiliki sedikit rasa nasionalis dan berpandangan bahwa sebaiknya diproduski petani agar Indonesia tidak lagi impor kedelai, dan menyejahterakan petani. "Kepingin begitu, wong tempe kedelai lokal lebih enak, lebih gurih, apalagi untuk tahu ebih enak menggunakan kedelai lokal ketimbang impor," katanya.
       Ahli pertanian dan pemerhati kedelai menilai bahwa harapan Kustirah masih jauh dari kenyataan. Meskipun beberapa daerah sudah menggunakan kedelai lokal sebagai bahan baku tempe, namun kedelai impor masih akan terus mendominasi dalam industri tempe nasional karena berbagai isu kompleks di bidang sosial, ekonomi pertanian kedelai.
       Menurut Edhie Sudaryanto, Pemerhati Kedelai yang juga pembina Rumah Kedelai Grobogan (RKG), Jawa Tengah, mayoritas kedelai yang saat ini beredar di kalangan produksi tempe adalah kedelai impor yang kebanyakan bersifat transgenik. Fenomena ini dipicu perbedaan harga yang cukup signifikan antara kedelai impor transgenik dan kedelai lokal non transgenik. Setiap kg kedelai lokal non transgenik, pengrajin tempe harus mengeluarkan uang Rp 8.500. Untuk kedelai impor transgenik, pengrajin tempe hanya mengeluarkan Rp 6.500 per kg.
       Ada beberapa faktor lain yang menyebabkan kedelai lokal kalah saing dari kedelai impor, di antaranya adalah produktivitas kedelai lokal yang rendah karena tidak optimalnya pemeliharaan, industri perbenihan kedelai tidak berkembang dikarenakan rendahnya permintaan petani, serta konsumen belum memperhatikan faktor hygien and local.
       Meskipun begitu, Edhie berpendapat bahwa penggunaan kedelai lokal harus tetap diperjuangkan. Sejak tahun 2008 kedelai Grobogan terus dibudidayakan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Kedelai ini adalah benih kedelai lokal unggul yang dilepas Kementerian Pertanian tahun 2008 dengan SK Menten Nomor 238/Kpts/SR120/2008. Kabupaten Grobogan adalah salah satu wilayah yang berpotensi menjadi sentra penanaman kedelai. Potensi besar varietas Grobogan dengan keunggulan usia tanam yang pendek 76 hari, berat biji kedelai 18 gr per 100 biji dan rata-rata produksi 3,4 ton per hektare menjadikan Grobogan sebagai sentra penghasil kedelai berkualitas.
       Berdasarkan data RKG, saat ini Grobogan adalah penghasil kedelai terbesar di Jawa Tengah dengan kontribusi yaitu 43,08% untuk Jateng dan 5,62% untuk kebutuhan nasional. "Grobogan menjadi penyangga kedelai nasional, jadi tidak heran Kementerian Pertanian menjadikan Grobogan sebagai sentral produksi kedelai," katanya.
       Tata niaga kedelai lokal di Indonesia masih tidak menguntungkan petani. Harga kedelai lokal harus mengikuti harga kedelai non transgenik impor Rp 12.000 per kg. Dengan begitu, harga kedelai lokal berada di antara kedelai transgenik impor dan kedelai non transgenik impor. Karena itu,  kebanyakan pengrajin tempe memilih kedelai transgenik impor. Kedelai Indonesia yang non transgenik dijual Rp 8.500 di tingkat petani, dan Rp 9.200 di tingkat konsumen.  "Petani tidak diuntungkan dari sisi harga. Ketika kedelai impor non transgenik dibandrol dengan harga tinggi, sedangkan kedelai lokal yang sudah pasti non transgenik dipaksa mengikuti harga impor transgenik," kata Edhie.
       Salah satu persoalan dalam peningkatan produktivitas kedelai lokal di Indonesia adalah kepemilikan lahan petani yang rendah, data dari sejumlah lembaga kajian menyebutkan rata-rata kepemilikan lahan petani kurang dari 1 hektar per orang. Juga minimnya dukungan pemerintah untuk penyerapan komoditas kedelai lokal.
       Rumah Kedelai Grobogan (RKG) menjawab persoalan ini dan menjadi oase di tengah persoalan kedelai lokal, dengan menampilkan budi daya kedelai lokal yang terintegrasi dan konsisten, dari hulu sampai hilir. Saat ini ada  80 ribu petani yang menanam kedelai Grobogan, dengan luas areal tanam 28 ribu hektar di Kabupaten Grobogan. Kedelai Grobogan menjadi unggulan karena memiliki hasil rata-rata 2,77 ton per hektar, potensi hasil 3,40 ton per hektar, miliki kandungan protein 43,9 persen, kadungan lemak 18,4%.

       Tingginya kandungan protein pada kedelai lokal inilah yang menyebabkan tempe atau tahu yang berasal dari kedelai lokal (non transgenik) jauh lebih enak dibanding kedelai impor yang transgenik (rekayasan genetika). Grobogan tidak hanya memproduksi kedelai tetapi juga benih kedelai. RKG menjadi tempat perbanyakan, membina 24 produsen atau penangkar benih kedelai lokal. Pada 2016 produksi benih kedelai Grobogan masih berkutat di sekitar wilayah Grobogan dan daerah lainnya di Jawa Tengah. Namun tahun 2018, benih sudah disebar ke sejumlah wilayah di Indonesia mulai dari Aceh sampai NTT.
       Pemerintah menargetkan tanam kedelai seluas 500 ribu ha dengan anggaran APBN-P 2017 yang dipusatkan di 20 provinsi mulai dari Sumatera seluas 153 ribu ha, Jawa 130 ribu ha, Kalimantan 27 ribu ha, Sulawesi 110 ribu ha, NTT dan NTB masing-masing 40 ribu ha. Kementerian Pertanian pun menargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada 2018 dengan penyaluran bantuan benih dan sarana produksi kepada petani. Kini pemerintah menarget produksi kedelai 1,5 juta ton per tahun, sedangkan saat ini rata-rata produktivitas kedelai rata-rata nasional 1,3 ton per hektar.
       Melalui upaya khusus (Upsus) kedelai pemerintah mendorong petani untuk mampu mengembangkan tanaman kedelai dan meningkatkan produktivitas pertaniannya guna memenuhi kebutuhan pasar domestik. Upaya peningkatkan produktivitas ini selain penyaluran benih ungguhl, juga melalui penerapan teknologi budi daya komoditi tersebut.
       Guru Besar IPB Prof Sony Suharsono mengatakan perlu ada teknologi baru yang diterapkan dalam meningkatkan budi daya kedelai lokal Indonesia. Salah satunya kedelai transgenik (GMO), yang secara keilmuan telah terbuktik tidak ada resiko. Di Amerika, 80 persen kedelai yang diproduksi adalah transgenik. Selama itu belum ada pernah dilaporkan orang Amerika mati karena mengkonsumsi GMO. Misalnya kita buat kedelai yang resisten herbisida, kalau ada hama penganggu tinggal semprot. Ini akan menghemat biaya produksi juga.
       Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB ini persoalan kedelai Indonesia secara ekonomi kurang menguntungkan karena beberapa faktor, pertama ketersediaan lahan. Menanam kedelai 1 hektar sudah dianggap luas, sedangkan di Amerika, petani menanam kedelai di lahan 50 hektar lebih. Dengan luasan lahan itu akan jauh lebih ekonomis dibanding hanya sepetak dua petak lahan. Dengan sistem mekanisasi dan dikelola secara perkebunan, budi daya kedelai jadi lebih efisien.
       Persoalan lain, kedelai berkompetisi dengan produk pertanian lain, Pemikiran petani yang lebih ekonomis, memilih komoditi lain untuk ditanam karena menghasilkan lebih banyak misalnya padi dengan delapan ton produksi bisa mendapatkan Rp 80 juta, sedangkan kedelai, berproduksi dua ton dengan harga jual Rp 8.500 hanya mendapatkan Rp 17 juta.



Tags :