Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Hemat Konsumsi Kantong Plastik


   Share :


net


Oleh: Sukarli
Cukup menyenangkan hati saya saat melihat kondisi sungai di Banjarmasin. Memang masih banyak sampah, tapi kebanyakan sampah organik, bukan plastik," ujar Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rosa Vivien Ratnawati. Kala itu Rosa Vivien berada di Siring Sungai Martapura di Jalan Piare Tendean Kota Banjarmasin dalam rangka Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2018.
Di mana permasalahan sampah plastik menjadi tema utama dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional kali ini, karena makin tingginya sampah plastik mencemari sungai dan laut. Kota Banjarmasin yang dikenal juga dengan Kota Seribu Sungai itu berhasil mengurangi sampah plastik.  Ibukota  Kalsel itu menjadi pelopor daerah dalam gerakan pengurangan sampah kantong plastik di Indonesia.
Sekitar 23 kota besar di Indonesia, salah satunya Banjaramsin jadi tempat gerakan pengurangan sampah kontong plastik oleh Kemen-LHK pada 23 Februari 2016. Realisasinya, Kota Banjarmasin tanggap mengeluarkan aturan melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) 18/2016 tentang larangan penggunaan kantong plastik di toko modern. Itu ditopang ketegasan Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Banjarmasin yang kala itu dipimpin oleh H Hamdi. Dengan sigab, Hamdi yang saat itu menjabat Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan sekalian dipercaya untuk sosialisasi ke toko-toko modern.
Pendekatan Hamdi berhasil, memang proses awalnya dalam beberapa bulan masih perbolehkan toko modern menyediakan kantong plastik bagi konsumen, tapi tidak gratis. Cara itu tidak efektif karena mengurangi penggunaan kantong plastik karena harganya dijual murah  Rp 200 per lembar. Karena itu, pemerintah minta toko modern jangan menyediakan kantong plastik bagi konsumen.
Sempat menjadi pro dan kontra, namun pemerintah kota tak bergeming, bahkan melakukan pengawasan langsung di lapangan, apabila ada toko modern masih menyediakan kantong plastik, teguran keras langsung dilayangkan. Lambat laun, masyarakat di Banjarmasin jadi terbiasa, lalu membawa wadah sendiri untuk belanja di toko modern. Dengan begitu, pemerintah kota mulai kenalkan bakul purun atau tas dari anyaman daun purun (tumbuhan hidup di sungai) khas kerajinan warga Kalsel sebagai pengganti kantong plastik untuk berbelanja. Bakul purun lalu kembali memasyarakat, bahkan mulai dijual di toko-toko modern hingga pusat perbelanjaan modern.
Kerajinan itu dibuat dalam berbagai corak dan model agar bisa terkesan lebih modern. Bahkan kerajinan kreatif bakul purun ini pun sudah pula diekspor, selain dikirim ke luar daerah. Keberhasilan kerajinan bakul purun menembus ekspor ini membuat pengrajinnya bergairah, yakni bakul purun sebagai cendramata diacara-acara resmi lainnya di provinsi ini. Bakul purun dianggap cocok jadi pengganti kantong plastik berbelanja karena jenis sampah yang mudah terurai, tidak seperti kantong plastik yang hingga lebih seratus tahun bisa masih utuh meski terbenam di tanah.
Masyarakat yang tinggal di kota-kota begitu mudah membuang sampah ke sungai. Lantaran pemukiman penduduk di kota berusia 491 tahun ini di pinggiran sungai. Struktur tanah, hampir seluruhnya rawa hingga sampah yang dibuang sembarangan bisa mengendap. Jangan heran bila tanah tidak maksimal senyerap, akibat itu sering terjadi genangan hanya dengan curah hujan sedang. Dengan populasi penduduk di Kota Banjarmasin 720 ribu jiwa, produksi sampah rumah tangga sekitar 600 ton dalam sehari.
Penanganan sampah tidak sampai 50% terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih di Banjarmasin Selatan, namun sebagian sampah diambil pemulung, di 210 bank sampah dan 11 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Tapi yang lebih banyak berserakan di berbagai tempat, seperti di Sunga. Hingga, 102 sungai di kota (masih aktif kondisinya dangkal penuh sampah), tidak jernih air  bahkan bahaya dikonsumsi langsung, karena puluhan tahun jadi tempat sampah dan limbah rumah tangga.
Langkah pemerintah kota mengurangi sampah kantong plastik hanya di toko modern ini memang tidak berpengaruh bagi pengurangan produksi sampah plastik, sebab mayoritas di pasar tradisonal. Hingga kini, pemerintah kota masih belum mampu menerapkan larangan penggunaan kantong plastik di pasar-pasar tradisonal itu, padahal pasar rakyat ini ratusan.
Meski ada tantangan, Kota Banjarmasin tetap diapresiasi KemenLHK. Selama 3 tahun beruntun yakni 2015, 2016 dan 2017 meraih penghargaan Adipura Kirana untuk katagori kota besar di Indonesia. Daerah lain seperti Jakarta, Bandung dan Bali, belum maksimal.
Anda yang belanja di toko modern atau ritel di mana saja di daerah Kota Banjarmasin jangan harap mendapatkan wadah belanja berupa kantong plastik. Dampak peraturan toko modern dilarang menyediakan kantong plastik bagi konsumen sejak 2016 hingga kini, diklaim Wali Kota Banjarmasin, H Ibnu Sina mampu cegah penggunaan kantong plastik 52 juta per bulan. Dampak ini sangat dipahami pemilik toko modern karena per tahun mereka sudah bisa mengurangi biaya penyediaan kantong plastik hingga Rp 500 juta.
Dampak lain, kerajinan bakul purun menjadi laku, hingga Usaha Kecil Menengah (UKM) di daerah ini menjadi hidup lagi. Kota Banjarmasin yang bermimpi menjadi Kota Sungai Terindah di Indonesia, harus benar-benar bisa menjaga sungai. Obsesi yang lebih mulia, justru mengembalikan sungai sebagai beranda depan rumah. Untuk  tujuan itu, rumah-rumah di bantaran sungai dibuat menghadap ke sungai, tidak lagi belakangi sungai, ini sudah mulai diterapkan di Banjarmasin Utara. Masyarakat sadar tidak lagi buang sampah plastik ke halaman rumah, sebab sungai menjadi beranda depan rumah.
Untuk peraturan dilarang toko modern menyediakan kantong plastik terus diterapkan sampai ke pasar tradisional. Banjarmasin, kometmen ikut mengurangi populasi sampah dunia, sehingga sungai dan laut di dunia ini tidak tercemar.
Direktur Pengelolaan Sampah Kemen-LHK,  Dr Novrizal Tahar menyebut, produksi sampah nasional terkini sudah  65,8 juta ton per tahun. Sampah plastik berkontribusi 16%. Ada peningkatan produksi sampah plastik tiap tahun, bila dilihat dari 2011 lalu hanya 11% dari total sampah nasional. Seluruh kabupaten/kota  penting menerapkan kebijakan mengurangi sampah plastik agar target nasional pada 2025 Indonesia bebas sampah tercapai. Target bebas sampah 2025 itu, 30% sampah dapat dikurangi, 70% dapat ditangani.
 



Tags :