Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Gizi Buruk Dalam Fenomena Gerakan Sosial


   Share :


net


Oleh: Hanni Sofia
Gerakan sosial rupanya sedang menjadi cara yang kekinian dan efektif untuk menyampaikan pesan tertentu. Wajar, pelibatan masyarakat dalam jumlah masif  lebih membuat suatu persoalan jadi milik bersama. Seperti gizi buruk dan stunting (kurang gizi) yang sering jadi tema dalam gerakan sosial.  Fakta itu menjadi kabar baik di tengah merebaknya kasus gizi buruk di Tanah Air. Beberapa LSM atau organisasi massa menggelar kampanye dan gerakan sosial dalam berbagai bentuk untuk memberantas kasus gizi buruk.
Indonesia Vegetarian Society (IVS) yang menggelar tantangan untuk tujuh hari menerapkan pola hidup dan pola makan vegan yakni hanya mengonsumi bahan pangan berbasis nabati dengan hadiah kontribusi bagi solusi stunting di Indonesia. Sekjen  IVS Susianto Tseng menantang masyarakat untuk hidup vegan. Dengan menjadi vegan selama 7 hari, bisa mendapat hadiah berupa kontribusi nyata bagi upaya penanganan gizi buruk. Bagi 100 penantang pertama per hari diterapkan pola makan vegan, IVS dan VSI Charity didonasikan Rp 50.000 kepada 1 anak gizi buruk.
Tantangan serupa disampaikan kalangan artis dan publik figur seperti Sophia Latjuba dan putrinya Eva Celia, Kaka Slank dan Kak Seto. Gizi buruk telah mengakibatkan 9 juta anak Indonesia alami stunting alias kekerdilan karena masalah asupan nutrisi kronis. Angka itu diibaratkan dalam perbandingan skala nasional; 1 dari 3 anak Indonesia alami stunting, atau 32,9%  anak Indonesia berbadan kerdil akibat kurang gizi. Dampaknya meluas hingga terjadi kerugian ekonomi Indonesia dari produk domestik bruto (PDB).
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyebutkan hitungan kerugian bagi PDB diperbandingkan jika ada 2% anak yang stunting di suatu daerah maka kerugiannya sekitar Rp 200 triliun. Angka akan melonjak jika tiga persen maka kerugian yang dialami bisa Rp 300 triliun. Maka bila PDB total pada 2017 sekitar Rp 13.000 trilliun maka potensi kekurangan akibat stunting adalah Rp 300 triliun setahun.
Di sisi lain, dengan menurunkan angka stunting di suatu daerah dapat mengangkat keuntungan investasi hinggga 48 kali lipat. Bambang mengajak kepala daerah fokus menekan angka stunting pada anak. Namun stunting dan gizi buruk sejatinya bukan sekadar tanggung jawab pemerintah. Pelibatan masyarakat melalui gerakan sosial justru akan menjadi upaya paling efektif untuk memberantas persoalan tersebut di Tanah Air. Terlebih kini, gerakan sosial melawan gizi buruk sudah mulai menjadi fenomena di kalangan masyarakat yang peduli. Intervensi penurunan angka stunting yang terintegrasi dengan 100 kabupaten dan kota. Pada 2019, intervensi pemerintah diperluas ke-60 kabupaten dan kota lain. Jadi, total 2019 ada 160 kabupaten kota.
Pemberantasan gizi buruk mestinya adalah milik semua. Masyarakat dan semua kalangan harus dilibatkan untuk menciptakan sebuah kampanye atau gerakan sosial. Meski begitu komitmen pemerintah tetaplah diperlukan sebagai lokomotif penggerak kampanye pemberantasan gizi buruk.
Presiden Joko Widodo sendiri selalu menyempatkan menjadi duta saat ke daerah-daerah untuk membagikan makanan tambahan kepada ibu hamil, balita, dan anak sekolah. Dalam berbagai kesempatan Presiden Jokowi mengungkapkan, makanan tambahan yang diberikan pemerintah yakni berupa roti biskuit. Makanan ini sengaja diberikan kepada ibu hamil, balita dan anak-anak untuk mencukupi kebutuhan gizi di samping makanan pokok.
Jika tujuan pemberian beragam bantuan dari pemerintah kepada masyarakat sebagai investasi bangsa. Anak-anak diberi makanan bergizi agar menjadi anak sehat. Sesuai data 2013, saat ini penurunan stunting pada anak Indonesia 32,9%. Targetnya pada 2019 angka itu harus turun setidaknya menjadi 29%.  Saat ini RKP 2018 menurunkan stunting sebagai salah satu program prioritas nasional. Pekerjaan rumah berikut, menjadikan gizi buruk dan stunting sebagai bagian dari persoalan bersama. Gerakan sosial boleh jadi adalah jawaban yang tepat.



Tags :