Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Meningkat Kasus Kurang Gizi di NTB


   Share :


Kabupaten Sumbawa data tertinggi anak mengalami gizi buruk yaitu 41,9%

net

Oleh: Hernawardi
            Angka prevalensi kurang gizi di NTB dianggap masih tinggi karena dari yang ditarget yaitu sebesar 15,5% di tahun 2017 belum tercapai.
            Plt Kadiskes NTB, Marjito mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh melalui kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG), prevalensi kurang gizi mengalami peningkatan dari 20,2% per 2016 menjadi 22,6% pada 2017. "Kita belum bisa menekan angka prevalensi kurang gizi ini," kata Marjito  Rabu (23/5).
Penyebab masih tingginya prevalanesi kuramg gizi di NTB cukup banyak dan komplek antara lain terkait tingkat kemiskinan, usia pernikahan yang masih rendah, pola asuh dan penyakit penyakit infeksi, diare maupun penyakit bawaan sejak lahir. Prevalensi kurang gizi tertinggi ada di kabupaten Dompu dengan presentasi 33% dan terendah Kabupaten Lombok Barat sebesar 18,1%.
            Untuk mengatasi kondisi tersebut dibutuhkan upaya yang menyeluruh dan berintegrasi dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait. Selain masalah kurang gizi, masalah gizi lain yang mengemuka adalah Stunting atau bertubuh pendek yakni kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga tubuh anak terlalu pendek untuk usianya.
            Data hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Stunting di NTB sebesar 37,2% lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu 29,6%. Angka itu juga meningkat dibanding tahun 2016 yaitu 29,9% atau naik 7,29%.
            Prevalensi Stunting tertinggi di Kabupaten Sumbawa yaitu 41,9% Lombok Lombok Tengah (39,9%), Dompu (38,3%), Kota Mataram (37,8%), Utara 37,6%, Bima (36,6%), Kota Bima (36,3%), Lombok Barat (36,1%), Lombok Timur (35,1%) dan terendah di Kabupaten Sumbawa Barat yaitu 32,6%.



Tags :