Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Indonesia Emas Tanpa Gizi Buruk


   Share :


Sejumlah balita duduk sambil bernyanyi didampingi para pengasuh di Tempat Penitipan Anak (TPA) Werdhi Kumara, Denpasar.

Wirnata

Oleh: Zita Meirina
      Bonus demografi, berkah yang berasal dari mayoritas jumlah penduduk usia produktif di tahun 2045, diharapkan melahirkan apa yang dicita-citakan sebagai generasi emas, yakni generasi istimewa yang momentumnya terjadi saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya. Waktu menuju datangnya 2045 menjadi peluang untuk menabur benih-benih keuletan, kebajikan dan kematangan watak atau karakter melalui upaya investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM).
      Investasi pembangunan bukan yang hasilnya bisa dirasakan sekejap, tetapi lebih pada keuntungan jangka panjang dengan hasil optimal tetapi berbiaya lebih murah. Pemerintah bertanggung  jawab menjaga tumbuh kembang sejak dalam kandungan 0-18 tahun. Jaminan tersebut meliputi kecukupan gizi hingga layanan kesehatan lainnya, memastikan anak-anak di usia sekolah mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan.
      Di sisi lain, orang tua disadarkan untuk menyiapkan anak-anak menuju generasi emas, dengan memberi asupan gizi yang cukup. Namun, kebanyakan orang tua masih terbatas  pengetahuan tentang masalah kesehatan, baik bagi ibu maupun anak. Dari sisi orang tua, kurangnya pengetahuan baik ayah maupun ibu tentang kesehatan dan gizi selama masa hamil, kesadaran memberi ASI eksklusif  hingga MPASI yang kurang sesuai. Tentu, kondisi ibu hamil yang kekurangan asupan gizi  berdampak terhadap anak-anak yang dilahirkan kelak.
      Presiden Joko Widodo pernah menegas, tidak ingin ada anak Indonesia menderita gizi buruk sebab kondisi itu berdampak pada kegagalan anak mencapai tinggi badan normal atau biasa disebut stunting. Stunting diartikan sebagai kekurangan gizi kronis pada balita yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak, salah satunya tubuh yang terlalu pendek untuk anak seusianya.
      Karena itu, masalah gizi buruk menjadi prioritas untuk segera ditangani dan pemerintah secara konsisten melakukan intervensi untuk kurangi dampak kekurangan gizi kronis. Saat ini, Indonesia sebagai negara dengan pendapatan menengah dan seharusnya kasus gizi buruk adalah masa lalu bangsa Indonesia. Anak-anak disiapkan untuk hadapi Indonesia Emas 2045. Bila konsisten, pada 2045 Indonesia berada pada posisi 5 besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
      Problem kesehatan, seperti angka kematian ibu dan anak, angka kurang gizi, dan penyakit yang masih ada yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir harus dituntaskan agar mulus menuju Indonesia Emas 2045. Di sisi lain, telah disiapkan disain untuk mewujudkan cita-cita bangkitnya generasi emas pada 2045, dengan menggencarkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), peningkatan kualitas PAUD dan pendidikan dasar yang  merata.
      Perkembangan kecerdasan terjadi sangat pesat pada awal tahun kehidupan. Sekitar 50% dari kecerdasan orang dewasa terjadi ketika anak berumur 4 tahun, dan 80% telah terjadi ketika anak berusia 8 tahun. Hasil kajian Daniel Goleman, psikolog kontemporer yang namanya melejit lewat karya Emotional Intelligence menyatakan, periode ketiga atau ke empat tahun pertama anak didik merupakan periode yang subur bagi perkembangan kecerdasan emosi. Di usia emas, peluang pengenalan literasi sejak usia dini merupakan sebagai langkah awal dalam menciptakan anak-anak anak yang berkualitas.
      Pada dasarnya sejak anak dilahirkan ia sudah membawa kemampuan literasi. Pembiasaan literasi harus dimulai sejak PAUD, TK, pendidikan dasar dan berlanjut hingga pendidikan menengah dan tinggi. Upaya mengatasi gizi buruk menjadi salah satu kebijakan nasional sesuai UU 36/2009.  Upaya tersebut untuk peningkatan mutu gizi perorangan dan masyarakat. Guna percepatan perbaikan gizi, telah dikeluarkan Peraturan Presiden 42/2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
      Selain itu, pemerintah gencar meluncurkan program Kartu Indonesia Sehat bagi masyarakat miskin untuk  mendapat pelayanan kesehatan hingga makanan bergizi bagi anak. Ini penting karena 1000 hari pertama kehidupan sangat pengaruhi tumbuh kembang anak, terkait kemampuan emosional, sosial dan fisik, serta kesiapan belajar, berinovasi dan berkompetisi. Masih tentang solusi mengatasi kurang gizi, pemerintah siap meningkatkan program gizi seimbang dan menyiapkan total anggaran Rp 60 triliun untuk 12 kementerian/lembaga yang terlibat penanganan stunting.
      Menko PMK Puan Maharani menjelaskan kerangka penanganan stunting terbagi atas intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Kedua hal ini membutuhkan kerja sama pemerintah dengan pemda dalam bentuk edukasi dan sosialisasi, makanan tambahan, suplemen, imunisasi, infrastruktur air bersih dan sanitasi serta bantuan keluarga miskin. Untuk itu telah diusulkan lokasi intervensi gizi terintegrasi di 100 kabupaten/kota.
      Kriteria lokasi merupakan komposit dari indikator prevalensi stunting tinggi, jumlah anak balita banyak, dan tingkat kemiskinan tinggi. Data pemantauan status gizi pada 2016; jumlah balita stunting 27,5% dengan rincian sangat pendek 8,5% dan pendek 19%. Target Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah di bawah 20%.  Kasus balita stunting ditemukan di wilayah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.



Tags :