Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Pertanian Organik Nusantara Penting Dikembangkan


   Share :


Seorang petani sedang mengumpulkan padi yang baru dipotong dan siap untuk dirontokan.

Wirnata


Oleh: Muhammad Razi Rahman
       Penulis India Jaggi Vasudev menyebutkan bahwa dengan metode pertanian yang salah, umat manusia bakal mengubah lahan subur menjadi gurun pasir. Untuk itu, orang-orang harus kembali ke pertanian organik dan menyelamatkan tanah. Hasil produk pertanian organik di Indonesia, sebagaimana di berbagai negara lain, masih lazim dianggap sebagai produk konsumen yang berharga mahal. Padahal, cara tanam organik sebenarnya telah dipraktikkan oleh orang-orang pada masa lalu sebelum penemuan pupuk buatan yang muncul sekitar abad ke-19.
       Dengan penggunaan pupuk buatan itu, keuntungan lebih murah, lebih kuat dan lebih gampang didistribusikan, secara tidak sadar pertanian memasuki era pestisida. Metoda atau teknik pertanian baru itu dinilai memiliki sejumlah dampak jangka panjang yang merugikan, seperti penurunan nilai kesuburan tanah hingga permasalahan zat-zat kimia berbahaya. Untuk itu, sejak abad ke-20, sejumlah pihak juga mulai menggalakkan gerakan untuk kembali ke pertanian organik.
       Di Indonesia, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan negeri ini berpotensi besar dalam mengembangkan pertanian organik. Tetapi, hal itu dinilai masih terbentur banyak hambatan. Kepala Penelitian CIPS, Hizkia Respatiadi mengatakan, para penyuluh pertanian, harus memberikan pendampingan kepada petani yang menanam padi organik. Pendampingan itu, sangat penting karena proses menjadikan Indonesia penghasil padi organik tidak selesai usai tanam.
       Pemerintah harus memberikan pendampingan terkait dengan banyak hal, seperti tenaga penyuluh pertanian, cara bercocok tanam yang sesuai dengan kaidah pertanian organik hingga pemasaran padi organik itu. Hizkia mengingatkan, pertanian organik tidak hanya dilihat dari hasil, tetapi dalam prosesnya juga harus dipastikan agar tidak bahan-bahan yang tidak mengandung polutan.
       Petani juga harus bisa memastikan sumber air untuk irigasi juga bebas dari polutan. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan lahan untuk menanam padi organik. Selain itu, peran penyuluh juga diharapkan lebih dari hanya mendampingi dan mengajari. Mereka diharapkan pula bisa menjadi penghubung antara petani dan pemerintah, baik pemerintah setempat maupun pemerintah pusat.
       Petani, juga harus diberikan pengetahuan mengenai sertifikasi tanaman organik yang harus diperbaharui setiap 2 tahun sekali. Hal ini penting agar para petani tetap bisa menjaga proses tanam dan panen secara organik dan menghasilkan tanaman organik berkualitas baik. Dalam prosesnya, sertifikasi ini sebaiknya dibuat sederhana dan mudah agar tidak sulit dimengerti oleh petani.
       Kementerian Pertanian juga mendorong pengembangan budi daya padi sehat, yakni penanaman padi dengan mengedepankan penggunaan produk-produk pupuk dan insektisida organik, serta mengurangi produk kimiawi. Direktur Tanaman Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ali Jamil di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (10-4-2018), mengatakan bahwa pihaknya pada tahun ini telah mengembangkan demplot atau percontohan padi sehat di areal seluas 23.000 hektar di delapan provinsi sentra produksi padi di Tanah Air.
       Dengan menggunakan produk-produk hayati itu, dia berharap mampu menjadikan tanah sehat kembali setelah mengalami kerusakan akibat pupuk maupun insektisida kimiawi. Dengan tanah persawahan yang sehat, apa pun yang ditanam juga akan sehat begitu pula produksi pangan yang dikonsumsi juga sehat. Pada 2019, pengembangan budi daya padi sehat akan ditingkatkan luasannya dari 23.000 hektar tahun ini menjadi sekitar 40.000 hektar dengan APBNP.
       Ketua Umum Asosiasi Bio-Agroinput Indonesia (ABI) Gunawan Sutio mengatakan pihaknya memberikan bimbingan kepada petani dalam penerapan budi daya tanaman sehat dengan mengutamakan penggunaan produk-produk organik. Pengembangan padi sehat mampu menghemat biaya produksi hingga 25% serta meningkatkan produktivitas tanaman hingga 1 ton per hektar.
       Terkait pengembangan tanaman padi sehat di Kabupaten Bekasi seluas 6 hektar, Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin mengatakan, panen padi di Desa Sukamantri kali ini hasilnya cukup bagus karena padi yang dihasilkan sehat dan tidak terserang hama. Tidak hanya di Bekasi, kalangan petani di sejumlah daerah, seperti Jawa Tengah juga didorong beralih ke pertanian organik sehingga bisa mandiri dan tidak bergantung pada pemerintah, khususnya terkait pupuk bersubsidi.



Tags :