Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Hari Depan Industri Farmasi Indonesia


   Share :


Wirnata

Oleh:  Aditya Ramadhan
        Instruksi Presiden Nomor 6/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan agar Indonesia bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan obat di Tanah Air mulai terlaksana secara perlahan. Instruksi itu mengamanatkan pada jajaran kementerian-lembaga terkait untuk bekerja bersama-sama mengupayakan dan menjamin ketersediaan farmasi dan alat kesehatan sebagai upaya peningkatan pelayanan kesehatan pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
       Presiden Joko Widodo meminta percepatan kemandirian dan pengembangan produksi bahan baku obat, obat, dan alat kesehatan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri serta ekspor. Pada penghujung 2017, Menkes Nila Moeloek memastikan, industri farmasi di Indonesia berkembang sesuai arahan dengan produksi obat-obatan sendiri untuk kebutuhan program JKN serta produksi bahan baku obat guna kemandirian produksi farmasi tanpa tergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.
       Nila meyakinkan beberapa perusahaan produsen obat mulai membuat bahan baku obat yang sampai saat ini sekitar 90% masih tergantung impor. Produksi bahan baku obat dalam porsi kecil sudah dilakukan Dexa Medica, Kalbe Farma yang tengah mengembangkan biopharmaceutical, Biofarma yang juga mengembangkan produk biosimilar, Kimia Farma yang sudah memproduksi garam farmasi dan akan mulai memproduksi 14 bahan baku obat setelah pembangunan pabriknya selesai pada 2018.
       Menkes mengatakan pemerintah mendorong industri untuk produksi bahan baku obat guna mengantisipasi andai-andai produsen bahan baku dari luar negeri, yakni Cina dan India, mengembargo atau menghentikan pasokannya ke Indonesia. Namun, dengan catatan, tidak perlu seluruh industri produksi bahan baku obat apalagi dengan jenis yang sama karena akan percuma. Nila ingin agar industri bekerja sama, bahu membahu, saling melengkapi produksi bahan baku obat yang belum ada.
       Pemerintah membuka 100% kran investasi dari pihak manapun untuk berinvestasi bidang farmasi dan bahan baku obat di Indonesia. Namun lagi-lagi dengan catatan, adanya kontrak win-win yang jelas dan mengikat. Harus diakui pengembangan industri farmasi dan kimia bukanlah bisnis yang mudah dan murah karena memerlukan riset dan pengembangan. Selain membutuhkan biaya untuk riset tersebut, jangka waktu penelitian yang tidak selesai hanya dalam waktu dua atau tiga tahun ini makin menambah nilai investasi.
       Karena itu, Nila menyarankan untuk membentuk konsorsium dalam pengembangan industri farmasi, entah itu produksi obat atau bahan baku obat, agar Indonesia bisa memiliki pabrik berbagai macam obat sendiri tanpa perlu impor, syukur-syukur malah menjadi negara pengekspor. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan perusahaan farmasi di luar negeri dalam hal riset dan pengembangan dengan mengutamakan alih teknologi di sektor industri farmasi dan kimia. Hal itu diamini Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, untuk percepat riset dan pengembangan industri obat-obatan memerlukan industri yang lebih maju dari negara lain.  Join venture ini telah dilakukan oleh beberapa industri farmasi di Indonesia, seperti Kimia Farma dan Kalbe Farma dengan Korea Selatan, dan Soho dengan industri farmasi dari Jerman.
       Indonesia sebagai negara yang melintang di garis khatulistiwa membuat berbagai macam tumbuhan bisa hidup dan tumbuh. Selain itu, Indonesia yang memiliki dua musim saja, yaitu hujan dan kemarau, memungkinkan segala tanaman hidup sepanjang tahun. Menkes menekankan keuntungan itu di mana negara di Eropa dan lainnya yang memiliki empat musim akan berhenti bercocok tanam pada musim salju. Dia meyakini bahwa dari sekian banyak tanaman yang hidup di Indonesia, pasti memiliki manfaat untuk dijadikan sebagai obat herbal. Hanya membutuhkan penelitian untuk membuktikan beragam khasiat tumbuh-tumbuhan itu.
       Direktur Dexa Laboratories Bimolecular Sciences PT Dexa Medica Raymond Tjandrawinata mengatakan Indonesia memiliki 30 ribu tanaman herbal yang bisa digunakan sebagai obat-obatan. Namun, dari 30 ribu jenis tanaman herbal itu baru dimanfaatkan sebanyak 13 ribu, dan itu pun baru digunakan sebagai jamu yang belum teruji klinis dan sifatnya promotif preventif. Dari 30 ribu jenis tanaman herbal tersebut, baru 500 tanaman herbal yang dijadikan obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka yang sudah diuji klinis pada manusia dan bermanfaat sebagai penyembuhan.
       Hal itu, artinya potensi Indonesia dalam mengembangkan obat herbal ini sangat luas dan sangat besar nilai ekonominya. Menkes mendorong industri farmasi untuk berinovasi tidak hanya untuk produk obat-obatan, namun untuk kesehatan secara keseluruhan, seperti suplemen herbal. Konsumsi suplemen herbal yang digunakan setiap hari bisa melebihi penjualan obat-obatan yang hanya digunakan saat orang sakit sebagai upaya kuratif. Nila mengaitkan dengan upaya pemerintah yang beralih dari mengobati orang sakit menjadi berupaya mencegah orang sakit dengan promotif dan preventif. Industri diminta untuk turut berkontribusi dalam hal ini dengan produksi suplemen herbal sebagai upaya promotif dan preventif. Terlebih, Indonesia yang tengah menjalankan program JKN dengan peserta yang sudah 185 juta orang dari total 250 juta jiwa penduduk Indonesia, memiliki potensi sangat besar sebagai arah ke mana produk-produk tersebut akan dipasarkan.
       Apalagi, pemerintah Indonesia menargetkan pada 2019 seluruh penduduk Indonesia sudah terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dalam program JKN. Indonesia ke depannya diyakini akan menjadi pemain besar dalam industri farmasi di dunia, khususnya di bidang obat-obatan herbal, jika konsisten.

 



Tags :