Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Upaya UNEJ Menjaga Keselestarian Alam TNMB


   Share :


net


Oleh: Zumrotun Solichah
      Universitas Jember mendapat kepercayaan untuk menjalankan program mitigasi berbasis lahan melalui program rehabilitasi hutan di Resort Wonoasri di Kabupaten Jember, Jawa Timur yang berada dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Dalam proposal yang diajukan Unej berjudul "Pengelolaan Kawasan Rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Melalui Pengembangan Desain Demonstrasi Plot dengan Prioritas Jenis Tanaman yang memiliki Fungsi Penutupan Lahan Sepanjang Tahun mendapat pendanaan Rp 2,39 miliar dari Indonesia Climate Change Trust, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, USAID serta TNMB.
      Wakil Rektor II Unej Wachju Subchan mengatakan ada beberapa kegiatan yang akan dijalankan dalam program mitigasi berbasis lahan, yakni melakukan penanaman tanaman ekonomi nonkayu, peningkatan kesuburan dan daya sangga tanah, penilaian ekologi kawasan rehabilitasi, pembuatan hutan kolong dan pekarangan, peningkatan kerja sama antara Unej dan TNMB, serta pemberdayaan masyarakat sekitar TNMB. "Rehabilitasi hutan di Resort Wonoasri dijalankan dengan cara menanam 82 ribu bibit tanaman ekonomi nonkayu di lahan seluas 255 hektar," katanya.
      Lahan yang dilaksanakan Unej akan dilaksanakan selama 17 bulan. Selain dimotori para dosen dari berbagai lintas disiplin selaku peneliti, program tersebut juga melibatkan 30 orang mahasiswa yang akan melakukan riset di berbagai aspek, serta lima mahasiswa yang mengikuti program magang di TNMB. Anggota tim peneliti dari Unej Hari Sulistyowati mengatakan pemilihan lokasi Resort Wonoasri untuk rehabilitasi lahan didasari hasil penelitian sebelumnya yang menemukan fakta bahwa kerapatan tanaman di resort tersebut hanya 234 batang per hektare, padahal idealnya berkisar 400 sampai 700 batang per hektar.
Untuk itu dilakukan penanaman tanaman ekonomi nonkayu seperti kemiri, kedawung, alpukat dan lainnya yang bertujuan buahnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, tanpa harus menebang pohonnya. Usaha rehabilitasi lahan di Resort Wonoasri TNMB tidak saja meningkatkan kesuburan dan daya sangga tanah, namun yang lebih penting diharapkan berdampak langsung pada usaha penurunan emisi gas rumah kaca. Indonesia telah memiliki rencana aksi nasional dan rencana aksi daerah penurunan emisi gas rumah kaca dan Jawa Timur targetnya pada tahun 2020 mampu menurunkan 6,2 juta ton karbondioksida.
      Untuk Jember belum memiliki rencana aksi daerah untuk menurunkan emisi gask kaca, sehingga pihaknya bekerja sama dengan dinas terkait untuk menyusun rencana aksi daerah penurunan emisi gas rumah kaca untuk Jember. Ia mencontohkan setiap pohon mampu menyerap karbondioksida sebanyak 28,2 kg per hari, dan produksi 20,4 kg oksigen, sehingga bisa dibayangkan jika penanaman 82 ribu bibit yang dimotori Unej berhasil, maka mampu menyerap 1.100 ton karbondioksida per hari.
      Karbondioksida itulah penyebab emisi gas rumah kaca yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global, sehingga diharapkan berbagai program yang dilakukan Unej dapat mengurangi pemanasan global di Indonesia dan khususnya di Kabupaten Jember. Suksesnya program mitigasi berbasis lahan bergantung dukungan masyarakat Desa Wonoasri karena sebagai  aktor utama dan pihak Unej dalam posisi mediator dan fasilitator yang bertugas mendampingi masyarakat, serta memberikan dukungan dari sisi keilmuan dan teknologi.
      Tim melakukan kegiatan pengukuran karbon di areal rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri selama lima hari, mulai tanggal 12 - 16 Januari 2018. Pengukuran karbon itu menjadi salah satu kegiatan sambil melakukan pengawasan terhadap penanaman 92.324 bibit pohon durian, langsep, pakem dan kemiri di empat blok rehabilitasi yakni Curah Malang, Donglo, Bonangan dan Pletes, seluas 255 hektar.
      Dari perhitungan yang dilakukan, jika semua bibit pohon yang diberikan kepada petani ditanam dengan baik, maka diperkirakan mampu menyerap 1,6 juta ton karbondioksida.Target untuk Jawa Timur sendiri untuk tahun ini adalah mampu menyerap 6 juta ton karbondioksida, sehingga rehabilitasi lahan di TNMB memang krusial. Satu pohon berukuran tinggi 30-50 cmr saja mampu menyerap dan menahan air di tanah 19 liter atau satu galon, bahkan pohon yang sudah besar mampu menyerap air hingga 60 galon.
      Namun menjalankan sebuah perubahan, apalagi perubahan yang cukup mendasar tentu saja tidak mudah. Begitu pula dengan yang dirasakan oleh para peneliti Universitas Jember yang tergabung dalam Tim Mitigasi Berbasis Lahan dan berbagai program yang sudah disiapkan terkadang tidak bisa dijalankan di lapangan.
      Dukungan program rehabilitasi hutan tersebut banyak mendapat dukungan dari desa dan Taman Nasional Meru Betiri karena penebangan kayu di hutan secara massif yang terjadi pada tahun 1998 menyebabkan hutan gundul dan banyaknya bencana alam yang datang, namun desakan ekonomi menyebabkan masyarakat melakukan penjarahan hutan.
      Kepala Desa Wonoasri Sugeng Hariyadi mengaku senang dengan program mitigasi berbasis lahan yang dilaksanakan Unej karena di daerahnya sering terjadi bencana alam banjir karena ribuan hektare lahan hutan gundul pada saat penjarahan hutan tahun 1998. "Jika hujan turun dengan intensitas sedang, maka seperempat desa kami tergenang banjir. Saat hujan turun dengan deras, maka separuh desa yang terkena banjir. Sebaliknya, saat musim kemarau datang, air dalam tanah berkurang, sehingga para petani harus menggunakan mesin penyedot air untuk mengairi sawahnya," katanya.
      Salah satu penyebab bencana banjir dan kekeringan itu merupakan dampak gundulnya hutan karena tanpa pohon, sehingga tidak ada lagi penahan dan penyimpan air di dalam tanah. Jika desa-desa di seputaran TNBM diibaratkan sebuah mangkok, maka letak Desa Wonoasri berada di dasar mangkok, sehingga jika musim hujan sering kebanjiran, sedangkan saat musim kemarau air sulit didapat. Desa Wonoasri dihuni kurang lebih 11.300 jiwa dengan luas daerah 638 hektar  yang mayoritas hidup sebagai petani, bekerja di perkebunan milik PTPN dan menjadi buruh migran.
      Kepala Resort Wonoasri TNMB Arif Yuwono mengatakan kuantitas dan kualitas pohon di Resort Wonoasri memang sangat minim akibat penjarahan kayu hutan pada tahun 1998, sehingga pihaknya sangat mendukung program mitigasi berbasis lahan yang dilakukan Unej untuk melakukan rehabilitasi hutan.
      Selain program penanaman kembali, tim Universitas Jember juga melaksanakan program pemberdayaan masyarakat Desa Wonoasri, berupa pemberian berbagai pelatihan, termasuk bagi para mantan buruh migran di antaraya pembuatan jamu dan sirup rempah. Tim Program Mitigasi Berbasis Lahan Unej juga banyak mendapatkan masukan dari warga Wonoasri, khususnya terkait jenis pelatihan yang akan diberikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat.
      "Kami telah mempersiapkan berbagai pelatihan, antara lain pelatihan ternak lebah madu, kambing ettawa, serta semut rangrang sebagai pakan burung berkicau. Tim juga menyiapkan pelatihan budidaya dan pengelolaan jamur, tanaman obat, keripik dan sale pisang, serta kerajinan tangan," kata peneliti dari Fakultas Pertanian Unej Ni Luh Putu Suciati.
      Beberapa usulan pelatihan adalah pembuatan jamu, produk olahan jamur dan usulan lain, bahkan membuat batik untuk mendongkrak potensi wisata di TNMB juga dilakukan dengan pendampingan yang serius. Pemberian pelatihan membatik kepada ibu-ibu di Desa Wonoasri bertujuan memberikan ketrampilan yang menjadi modal untuk mencari tambahan pemasukan sehingga kesejahteraan masyarakat desa penyangga hutan makin meningkat.
      Kini Jember punya batik tulis khas, batik tulis Meru Betiri yang diproduksi para ibu di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo yang merupakan desa penyangga TNMB. Sebanyak 13 motif batik yang semuanya bersumber dari kekayaan hayati TNMB dan uniknya lagi semua batik tulis tersebut merupakan batik tulis yang menggunakan pewarna alami. "Ada 13 motif batik yang telah kami buat yang idenya bersumber dari kekayaan flora TNMB, misalnya motif bunga raflesia, cabe jawa dan blarak atau daun kelapa.
      Sementara motif elang Jawa, sisik trenggiling dan macan tutul mengambil dari fauna yang menghuni TNMB, ada juga motif perpaduan antara flora dengan fauna, yakni tawon raflesia," kata Supmini Wardhani yang menjadi desainer batik Kelompok Kehati Meru Betiri.
Untuk mendapatkan warna hitam kami menggunakan akar dan batang tanaman mangrove, warna merah dari daun jati, warna krem dari daun tumbuhan Putri Malu, serta pewarna alami lainnya yang tersedia di lingkungan sekitar.



Tags :