Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Melihat Potensi Usaha Rintisan


   Share :


net


Oleh: Azis Kurmala
       Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam laporan terakhirnya menyebutkan jumlah pengguna internet tahun 2017 telah mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,68%  dari total jumlah penduduk Indonesia. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 132,7 juta jiwa. Adapun komposisi pengguna internet berdasarkan jenis kelamin, terdiri dari perempuan sebanyak 48,57%  dan lelaki 51,43%.
       Untuk komposisi berdasarkan usia, angka terbesar ditunjukkan oleh masyarakat berumur 19 - 34, yakni 49,52%. Namun penetrasi terbesar berada pada umur 13-18 yakni 75,50%.  Angka penetrasi pengguna internet kedua terbesar berdasarkan tingkat ekonomi, yakni berturut-turut berada pada masyarakat menengah bagian bawah 74,62% dan masyarakat mengengah atas 16,02%. Hal itu menunjukan saat ini, manfaat dari internet tidak hanya dapat diakses kalangan atas.
       Sementara perkembangan startup (perusahaan rintisan) teknologi di Indonesia juga meningkat setiap tahunnya. Saat ini sudah ada lebih dari 230 perusahaan di Indonesia bahkan empat diantaranya berhasil menjadi startup unicorns, dengan nilai investasi  1,6-2,8 juta dolar AS. Keempat usaha rintisan unicorn  adalah Go-Jek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak.
       Perkembangan usaha rintisan teknologi ini tidak lepas dari semakin banyak kebutuhan akan gaya hidup digital di Indonesia. Investor paling aktif memberikan pendanaan ke usaha rintisan adalah investor lokal, diikuti oleh investor Amerika Serikat, Singapura, dan Tiongkok. Berdasarkan laporan perkembangan industri rintisan 2017 yang dikeluarkan DailySocial, ada tiga sektor yang berpotensi paling besar untuk berkembang pesat di tahun 2018, yaitu teknologi keuangan (fintech), media dan kesehatan.
       Perusahaan rintisan teknologi keuangan akan terus berkembang di tahun 2018 didukung dengan peraturan fintech, teknologi pendukung yang semakin canggih serta tingginya permintaan dari konsumen akan sektor ini. Pemilihan umum pada 2019  ber dampak positif terhadap perkembangan startup media pada 2018. Pasalnya, penduduk Indonesia mulai mencari media mana yang dapat memberikan informasi dan wawasan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
       Disamping itu, politikus  akan menjadikan media sebagai alat untuk mempengaruhi opini masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Usaha rintisan kesehatan pada tahun ini akan terus mengembangkan layanan kesehatan yang paling efisien yang dapat diakses menggunakan internet dan teknologi mobile.  
       Partner Convergence Ventures, Donald Wihardja mengatakan Indonesia menjadi pusat perhatian dari peluang internet dan mobile dalam level regional dikarenakan negara ini merupakan pasar yang paling besar di ASEAN.  Perkembangan industri perusahaan rintisan akan terus melejit seiring dukungan pemerintah, inisiatif pengusaha maupun investor. Karena itu, para pelaku usaha rintisan domestik harus memaksimalkan pasar yang begitu besar di negara ini.
       Mereka harus mampu identifikasi kebutuhan dan perilaku para pengguna internet agar produk yang dihasilkan diminati oleh konsumen. Agar produk diminati konsumen, maka layanan harus bisa memberikan solusi. "Para pendiri perusahaan rintisan harus memiliki visi dan misi yang jelas, tepat dan terukur. Mereka harus yakin apa yang mereka kerjakan dan perjuangkan itu akan laku di pasar," kata dia.
       Selain itu, para pendiri perusahaan rintisan harus mengetahui seluk-beluk bisnis mereka, bagaimana mengembangkan, menjual dan memasarkan produk mereka.  "Orang yang mampu mengembangkan perusahaan rintisan, mereka mengetahui apa yang mereka perbaiki," ujar dia.
       Untuk hasilkan produk yang baik, maka perusahaan rintisan harus memiliki tenaga kerja programmer atau pembuat aplikasi yang handal. Para pendiri perusahaan rintisan harus mampu mencari programmer yang mampu memberikan inspirasi kepada rekan-rekannya agar ide-ide brilian akan muncul dan dapat segera diterapkan.
       Managing Partner Coffee Ventures, Kevin Darmawan mengatakan pendiri perusahaan rintisan harus mampu membuat proses untuk menghasilkan suatu produk menjadi lebih cepat dan murah. Ketika layanan tersebut tidak diminati, masih ada energi tersisa untuk perbaiki. Ada permasalahan utama yang sering dihadapi founder saat awal-awal mendirikan perusahaan rintisan. Permasalahan berkutat antara ide dan asumsi.
       Para pendiri perusahaan rintisan berpikir bahwa ide yang mereka temukan mempunyai pasar yang besar. Mereka lupa untuk melakukan riset secara mendalam untuk menguji ide tersebut. "Ketika waktu, tenaga, dan investasi sudah terserap banyak, ternyata pasar tidak menginginkan solusi yang ditawarkan," kata dia.
       Kemudian, pelaku usaha rintisan baru harus mampu mengikuti bagaimana perilaku konsumen. Pada dasarnya konsumen selalu bersedia untuk mencoba produk baru yang menawarkan keunggulan dan pengalaman yang berbeda. Apabila pelaku usaha rintisan baru tidak mampu membuat sesuatu layanan yang terbaru, maka produk yang serupa tersebut harus mempunyai nilai tambah yang berbeda. Dengan adanya nilai tambah, usaha rintisan tersebut akan menggaet pasar berbeda.
       Pendiri usaha rintisan baru harus mempunyai kegigihan, mencintai pekerjaannya, berpikiran terbuka dan membangun jaringan. "Belajar dari pengalaman, tidak banyak 'startup' yang bertahan dan terpaksa harus gulung tikar," kata dia.
       Selain itu, para pelaku usaha rintisan baru harus fokus merekrut pegawai yang tepat. Apabila kesulitan menemukan pegawai yang loyal dan siap berjuang demi perusahaan, maka bisa merekrut tenaga lepas atau mahasiswa yang baru lulus dengan kemampuan yang mumpuni. Dari 100 perusahaan rintisan yang ada mungkin yang jalan terus hanya 2- 5 buah atau dari 1.000 usaha rintisan hanya 25 buah yang bisa terus bertahan. Startup aplikasi  kini menjadi kebutuhan dan bisa memberi nilai tambah. Nilai tambah bisa terinspirasi dari kesulitan yang didapat orang hingga diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.



Tags :