Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Selamatkan Generasi Bangsa Dari Miras


   Share :


Seorang SPG menawarkan minuman jenis bir dalam sebuah acara otomotif di kawasan, Sanur, Denpasar.

Wirnata


Oleh: Nancy Lynda Tigauw
      Masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para generasi muda saat ini yang merupakan harapan bangsa, tetapi masih banyak generasi muda di Indonesia cenderung mengkhawatirkan perilakunya bagi kelanjutan masa depan bangsa ini termasuk minum miras. Gereja diharapkan perbanyak kegiatan kepemudaan sebagai aksi mengantisipasi anak muda terjerumus dalam miras.
      Tokoh pemuda Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa, Sulut, James Moray di Manado mengatakan, harus diakui, hal ini membutuhkan waktu cukup lama dan tenaga untuk memberantas, kata James.
       Ketua Remaja Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Kalawiran mengakui, di Kecamatan Kakas, ada warga produksi miras sebagai salah satu pendapatan sejak dulu. Rasanya  sulit diberantas, mulai proses produksi sampai pemasaran sulit ditertibkan. Yang dilakukan pemerintah, gereja dan organisas pemuda yakni perbanyak kegiatan kerohanian, dan sosial yang melibatkan pemuda dan remaja.  
      Kepala Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Puspa Manado, Piet H Pusung mengatakan peran orang tua sangat penting untuk hindarkan anak-anak konsumsi miras. "Antisipasi sejak dini, sangat penting. Saat beranjak remaja dan pemuda bisa melindungi diri sendiri," katanya.
      Mulai dari orang tua untuk mengajarkan anak-anak bahwa minum miras dan mabuk adalah tindakan tidak terpuji. Dan, tidak menyajikan minuman keras saat ada tamu, pesta, atau perayaan apapun di lingkungan keluarga.  Karena, hal itu memicu anak untuk ikut-ikutan minum sehingga baik keluarga, kelompok masyarakat, pemerintah dan organisasi keagamaan harus samakan persepsi dulu, bahwa mabuk itu bukan sikap terpuji. Kalau masih banyak orang menempatkan orang mabuk sebagai simbol kejantanan atau kekuasaan, anak-anak akan melihatnya sebagai role model yang siap diikuti. Apalagi, kalau ada budaya menyajikan miras saat ada tamu merupakan simbol penghormatan.
      Jangan sampai kejadian di Jawa, akibat miras oplosan menelan korban terjadi di Bumi Nyiur Melambai.  Ketua Badan Pengurus Nasional Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas), Peter Jacob mengatakan, tokoh agama bertugas membina generasi muda agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif.  Penggunaan miras apalagi oplosan, bukan saja berbahaya bagi kesehatan tapi merusak rencana dan masa depan.  
      Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Sulawesi Utara (Sulut), Ivanry Matu mengatakan pemerintah harus meningkatkan diversifikasi produk minuman beralkohol sehingga hasil akhir tidak hanya berupa miras. Untuk  hindari konsumsi miras berlebihan, perlu inovasi produk unggulan baru dengan berbahan baku alkohol.
      Diversifikasi produk minuman beralkohol menjadi produk turunan seperti alkohol untuk keperluan medis, farmasi dan harus berbasis industri. Jika semua berbasis industri, otomatis minuman beralkohol tidak dijual bebas di kalangan masyarakat, karena harus memenuhi kebutuhan industri.
      Untuk minuman oplosan yang lagi marak, pemerintah harus eksekusi dengan peraturan daerah, dan langsung dengan sanksi dan denda. Jika perlu, bisa digelar sidang di tempat oleh tim keamanan terpadu kategori pidana ringan, --penjual dan pemakai. Di sisi lain tidak bisa serta-merta memberi sanksi kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) minuman beralkohol, tapi harus ada ketegasan dan efek jerah.  Dari pohon nira petani bisa membuat gula aren dan gula semut. Untuk gula semut, permintaan dari luar Pulau Jawa cukup tinggi.



Tags :