Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Kepemimpinan Astabrata


   Share :


Kepemimpinan Astabrata
      Astabrata merupakan pedoman kepemimpinan  dari kitab Ramayana yang dikarang oleh Pujangga Walmiki pada 867 abad sebelum masehi.  Ramayana lalu menyebar ke Asia dan Indonesia.  Pada abad ke 9 cerita Ramayana sudah dipahatkan di dinding candi Prambanan.  Pada 1139 Ramayana digubah oleh Yogiswara dalam bentuk kakawin/ puisi berirama.   Di dalam cerita Ramayana terdapat petuah atau nasihat bijak kepemimpinan yang diberikan Rama kepada Wibhisana agar Wibhisana mampu menjalankan pemerintahannya di kerajaan Alengka.  Saat itu Kerajaan Alengka yang dipimpin oleh Rahwana sudah dikalahkan oleh Rama dan digantikan adik Rahwana yaitu Wibhisana. 
      Nasihat kepemimpinan Rama kepada Wibhisana dalam penggalan cerita tersebut dikenal dengan Astabrata.  Asta artinya delapan.  Brata artinya hal-hal yang harus dilakukan.  Astabrata berarti 8 sifat yang harus dimiiki pemimpin untuk mencapai suatu keberhasilan.
      Dengan sabar Rama menekankan tentang delapan hal sifat kepemimpinan, yang dalam bahasa modern dikenal dengan karakter kepemimpinan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki karakter dewa, yang memiliki sifat-sifat dewa, sifat yang luhur sebagai simbol pemimpin. 
      Karakter dewa yang dimaksud adalah:  Indra  (Dewa hujan), Yama ( Dewa ketegasan), Surya (Dewa yang menghidupi), Candra (Dewa kelembutan), Bayu (Dewa intelijen), Kuwera (Dewa kekayaan), Baruna (Dewa hukuman), Agni (Dewa keberanian). 
      Seorang pemimpin haruslah memiliki delapan karakter dewa tersebut agar bisa berhasil menjalankan kepemimpinannya.   Sloka pembuka kakawin Ramayana ditulis sbb:  “Dewa Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna dan Agni itulah delapan Dewa, yang merupakan badan sang pemimpin, kedelapannya itulah yang merupakan Asta Brata”.
      Indra Brata disebutkan sebagai dewa Hujan, yang mempunyai kekuasaan untuk menurunkan hujan, menghujani alam semesta, sehingga seorang pemimpin harus menghujani rakyat dengan pemberian yang baik, pemberian dalam bentuk harta, perlindungan dari bahaya (kamanan), dan pengetahuan. 
      Pemberian dalam bentuk harta dilakukan dengan memberikan kebutuhan materi, sandang, papan dan pangan.  Pemberian dalam bentuk perlindungan berupa perlindungan dari bahaya, memberikan rasa aman dari gangguan luar maupun dari dalam, menciptakan situasi keamanan yang mantap, memberikan/ menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga rakyat tidak merasa khawatir akan kelangsungan hidupnya dalam mencari nafkah.  Pemberian berupa ilmu pengetahuan berupa pendidikan, pelatihan, peningkatan sumber daya manusia dalam keahlian, keterampilan, sehingga rakyat memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dan bermanfaat bagi pengembangan diri, keluarga, organisasi dan Negara. 
      Tugas dari dewa Indra adalah menghujani rakyat dengan kemakmuran, memberikan kesejukan dan manfaat dari lapisan masyarakat atas sampai ke bawah, menghanyutkan segala rintangan yang dapat membahayakan rakyat dan negara.
      Yama Brata yang berarti Dewa Yama, yang memiliki karakter ketegasan dalam menegakkan hukum.  Yama ditafsirkan bahwa sebelum menjatuhkan hukuman, apalagi sampai hukuman mati hendaknya diambil penegakan hukum. Yama Brata berarti bahwa agar hukum itu ditegakkan terhadap semua orang yang melanggar hukum.  Pencegahan perbuatan melanggar hukum dilakukan agar orang malu melanggar hukum.  Pembangunan manusia akan berhasil jika hukum ditegakkan.  Hukum merupakan pagar kehidupan, baik hukum agama maupun hukum Negara.  Hendaknya pemimpin secara tegas dalam menegakkan hukum untuk mencegah pelanggaran dan melindungi rakyatnya.
      Surya Brata yang berarti karakter matahari, yang  bekerja dengan menyinari, memberikan kehidupan, yang secara perlahan-lahan mengisap air,  demikianlah hendaknya kalau pemimpin menginginkan sesuatu dalam mengambilnya, hendaknya sebagai caranya matahari selalu dengan cara lemah lembut.  Matahari menyinari dan memanaskan dengan perlahan-lahan, memberikan kehidupan.  Pemimpin hendaknya bekerja dengan ketekunan seperti matahari, memberikan sinar, menghilangkan kegelapan, memberikan kehidupan.
      Candra Brata yang  berarti karakter bulan, dengan penuh kelembutan, kasih sayang, budi luhur, pemimpin bekerja untuk kemajuan organisasi dan rakyatnya.  Pemimpin selalu menampakkan raut muka dan ucapan  yang manis dan hormat kepada orang yang dituakan dan guru.  Penghargaan dan penghormatan pemimpin kepada rakyatnya dengan kasih sayang dan kelembutan akan meringankan beban rakyat, serta dapat meningkatkan semangat rakyat dalam dalam menjalankan tugas yang dibebankan oleh pemimpin.
      Bayu Brata  yang berarti karakter  angin, bahwa pemimpin bekerja laksana angin yang berada di mana-mana, mampu menyerap dan menyaring informasi, mengetahui masalah dan mampu memberikan solusi dari masalah yang ada di bawah.  Angin segar juga sangat bermanfaat untuk kehidupan dan kedamaian, sedangkan angin ribut bisa merobohkan bangunan.  Seperti angin, pemimpin bisa memberikan kehidupan yang segar bagi rakyat yang bekerja tulus, dan memberikan kematian bagi rakyat yang bekerja tidak tulus.
      Kuwerakter ra Brata yang berarti kekayaan dan kesederhanaan.  Seorang pemimpin mampu menghasilkan kekayaan, dengan mengelola berbagai sumber daya, untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.  Pemimpin juga harus tetap menjaga kesederhanaan, hidupnya hemat dan tidak boros dengan penghasilan yang sudah didapatkannya, walau dia juga berhak untuk menikmati fasilitas kepemimpinannya dengan tidak berfoya-foya. 
      Baruna brata berarti karakter samudra yang memiliki senjata kuat naga pasa, yang bisa mengikat dengan ketat mereka yang jahat, dengan menghukum yang berbuat curang dan jahat. Senjata naga pasa juga berarti menyelesaikan masalah hukum dengan cepat , tepat dan sungguh-sungguh. Agni Brata berarti kepemimpinan dengan karakter api, yang bekerja laksana api menyelesaikan tugas dengan berani, tegas dan tangguh. 
      Pemimpin juga harus memiliki keberanian dalam menghadapi musuh, tegas dan tangguh dalam bekerja. Pemimpin yang melaksanakan tugas kepemimpinannya berdasarkan ajaran Astabrata dipastikan akan berhasil.  Astabrata yang diajarkan Rama kepada Pangeran Wibisana tetap memiliki relevansi yang kuat dari dulu sampai sekarang.  Astabrata menjadi cermin kepemimpinan bagi calon pemimpin dan pemimpin yang sedang berkuasa agar bisa bekerja untuk mencapai tujuan kepemimpinan yaitu kesejahteraan masyarakat.



Tags :