Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Awal Yang Baik, Berakhir Dengan Baik Pula


   Share :



Oleh: Markus Marlon *
       Kadang kala, kita pernah menghadapi tugas atau pekerjaan dan kita merasa mblênêg, bahkan terasa ingin muak. Tetapi, ketika kita masuk dan  mulai menggumuli pekerjaan itu, ternyata lancar-lancar saja.
       Ahli pidato bahasa Latin, kelahiran Prancis - Decimus Magnus Ausonius (310 - 395) menulis, Incipe dimidium facti est captum --mulailah, karena begitu engkau memulainya separuh dari pekerjaan itu sudah terselesaikan. Ini yang dalam peribahasa Inggris ditulis, Well begun is half done --  memulai pekerjaan dengan baik dan benar berarti menyelesaikan setengah pekerjaan.
       Semua memang perlu persiapan. Kita juga sering mendengar kalimat berikut, persiapan yang baik sama dengan 50% berhasil. Ini (mungkin) seperti yang menjadi prinsip orang-orang pekerja keras, dan yang dikatakan ahli pidato Romawi Kuno - Cicero (106 - 43 seb. M) spartam quam nactus es, orna, -- Jadikanlah Sparta sebagai hiasanmu ketika mendapat tugas.
       Lalu itu, ada seorang yang berkata, aku, hari ini rasanya bahagia banget, karena boleh membuat orang lain bahagia. Barangkali itulah tujuan kita hidup di dunia yakni: kedamaian alam semesta dan terjadinya welas asih antarmanusia. Seperti yang diajarkan Siddarta Buddha Gautama (563 - 483 seb. M).
       Lantas pada abad ke-17 di Jawa, ada tulisan indah yang diciptakan Pangeran Karanggayam berjudul Serat Nitisruti.  Surat atau serat ini berisi petuah-petuah dalam hidup sehari-hari mengenai  tata krama orang Jawa:
Kang sinebut ing gesang ambeg linuhung  (Yang disebut dengan hidup yang luhur)
Kang wus tanpa sama (Yang tanpa tandingan)
Iya iku wong kang bangkit (Yaitu orang yang mampu)
Amenaki manahe sasama-sama (Membahagiakan sesama)
       Membahagiakan orang lain merupakan kehormatan, yang dalam proverbia Latina ditulis, Honor est in honorante --kehormatan itu hanya layak untuk dia yang dapat menghormati sesamanya.  "Hidup bersama orang lain juga merupakan seni, kata sang guru. Persis disihir filsuf Persia, Abu Hamid Al Ghazali (1058 - 1111). "Hiduplah kamu bersama orang lain sebagaimana pohon yang berbuah, mereka melemparinya dengan batu, tetapi ia membalasnya dengan berbuah".



Tags :