Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Wabah Miras Oplosan


   Share :


Seorang wanita sedang menata sejumlah minuman beralkohol dalam sebuah acara di kawasan Nusa Dua, Badung.

Wirnata


Oleh: Budi Setiawanto
      Celaka karena kebodohan tampaknya memang berakibat fatal, tak hanya mengakibatkan kematian tapi pada puluhan orang. Itulah yang sedang terjadi pada sebagian remaja dan anak muda zaman now.
      Alih-alih tenggelam dalam keriaan dengan konsumsi bersama minuman keras  (miras) beralkohol yang dicampur dengan berbagai cairan berbahaya atau dikenal dengan istilah miras oplosan, mereka kini tenggelam dalam bumi untuk selama-lamanya hingga akhir zaman. Akhir-akhir ini menyeruak kabar dari sejumlah daerah, puluhan nyawa pemuda dan pemudi anak  muda mati sia-sia akibat kebodohan konsumsi miras oplosan.
      Polda Metro Jaya menyebut, tercatat 33 orang meninggal pasca menenggak miras oplosan. Antara lain di Jakarta Timur 10 orang, Jakarta Selatan 8 orang,  Depok 6 orang, Bekasi 7 orang dan Ciputat, Tangerang Selatan, 2 orang). Saat hampir bersamaan, Polda Jabar  merilis total warga yang mati dalam wilayah itu akibat miras oplosan 58 orang. Di Cicalengka 41 orang, Kota Bandung 7 orang, Sukabumi 7 orang, Cianjur 2 orang dan Ciamis 1 orang. Mereka bisa disebut bodoh karena semestinya mereka tahu bahwa ajaran agama melarang konsumsi miras, haram.
      Mustahil Sang Pencipta menyuruh ciptaan-Nya minum miras.  Jelas tidak mungkin bagi orang yang mau sedikit menggunakan akal. Mereka disebut bodoh karena tidak belajar dari kasus sebelumnya yang menyebabkan banyak orang meninggal karena miras oplosan. Pada 3 Desember 2014, 17 anak muda di Kabupaten Garut, Jawa Barat meninggal setelah minum miras oplosan yang di kalangan mereka dikenal cherrybelle.
      Selang sehari, tercatat 109 korban dirawat di rumah sakit Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, setelah konsumsi miras oplosan. Dari jumlah itu, 10 orang meninggal bahkan 6 korban yang harus dirawat di rumah sakit justru anak di bawah umur. Korban berjatuhan pada hari-hari yang hampir bersamaan di Depok dan Jakarta. Tercatat 34 dari total jumlah korban meninggal dunia akibat miras oplosan.
      Miras oplosan yang dikonsumsi merupakan campuran alkohol murni 95%, air mentah, pewarna, minuman suplemen. Ada pula yang mencampuri obat sakit kepala, obat nyamuk oles, bahkan dan oli. Kematian massal jelang akhir  2014 itu yang membuat Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan pada 6 Desember 2014 menyatakan, kebodohan telah mengakibatkan banyak orang minum miras oplosan. Ini kebodohan, dan tidak rasionalnya sejumlah masyarakat, remaja, anak-anak muda yang tidak sayang dengan diri dan masa depan.
      Gerakan Nasional Antimiras (GNA), yang diprakarsai, didirikan, dan dipimpin oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris, bahkan pernah menyampaikan data bahwa dalam setahun ribuan orang di Indonesia meninggal dunia akibat konsumsi miras. Organisasi yang dideklarasikan di Jakarta pada 1 September 2013 itu juga menyebut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sekitar 2 juta warga di dunia meninggal dunia karena konsumsi miras, dan sebagian di antaranya merupakan remaja dan generasi muda.
      GNA menjadi salah satu organisasi yang mendesak DPR RI untuk percepat penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minuman Beralkohol. RUU inisiatif  DPR yang masuk Prolegnas Prioritas sejak 2015 itu hingga kini belum tuntas dibahas. Indonesia tidak miliki undang-undang yang melarang peredaran barang meski telah ada ratusan Perda yang mengatur dan melarang peredaran miras. Perda itu seperti macan ompong, tak bisa mengatasi persoalan wabah konsumsi miras ini.
      Berbagai riset GNA menunjukkan, konsumsi miras di kalangan remaja kian meningkat. Dari total 63 juta orang remaja, sebanyak 23%  (14,4 juta orang) pernah konsumsi miras. Jumlah ini meningkat dibanding data dari Riset Kesehatan Dasar dari Kementerian Kesehatan tahun 2007 yang menyebutkan jumlah remaja pengonsumsi miras di Indonesia masih sebesar 4,9%.
      Langkah Kepolisian RI, sebagaimana disampaikan Wakil Kepala Polri Komjen Pol Syafruddin, menghentikan peredaran miras oplosan di seluruh Tanah Air pada bulan ini atau sebelum datang bulan Ramadhan pada Mei mendatang patut dipuji. Melalui razia besar-besaran dalam Operasi Cipta Kondisi memang terlihat hasil nyata yang dilakukan Polri, termasuk dalam menangkap para pelaku pembuat dan pengedar miras oplosan.
      Publik tentu berharap pengawasan dan razia untuk hentikan peredaran miras oplosan terus berlangsung dan sosialisasi bahaya konsumsi miras. Miras mengandung zat adiktif yaitu zat yang bila masuk ke tubuh manusia walau hanya sekali dan dengan jumlah sedikit akan menimbulkan efek kecanduan yang luar biasa dan akhirnya malah menjadi ketergantungan. Pada miras yang mengandung alkohol kadar tinggi tentu bisa langsung mengakibatkan kematian. Apabila pecandu tidak minum minol dalam jangka waktu tertentu, maka akan timbul berbagai gangguan fisik maupun psikis, tubuh dan pikiran mereka akan terus tidak tenang sehingga ia perlu sering minum alkohol.
      Mencoba minuman beralkohol untuk pertama kali pada awal masa puber, berisiko lebih besar terkena kecanduan alkohol di kemudian hari, dibanding mereka yang baru mencoba minuman beralkohol di usia dewasa. Untuk memastikan aman, sebaiknya katakan tidak atas segala macam minuman beralkohol dan minuman keras.
      Publik perlu diberikan pemahaman bahwa kandungan methanol atau etanol pada alkohol mempunyai sifat menekan aktivitas susunan syaraf pusat. Dalam jumlah sedikit, alkohol menekan pusat pengendalian diri. Dalam jumlah banyak dapat menimbulkan efek samping yang menyerang sel-sel saraf pusat sehingga mengakibatkan ganggguan mental organik yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan dan berprilaku.
      Anak muda Indonesia seharusnya menjadi generasi emas bagi kemajuan bangsa, bukan generasi lemas karena pengaruh miras ataau jenis narkoba lain. Agar tidak semakin membuat miris, hentikan miras sekarang juga. Mari bersama-sama melawan miras untuk menyelamatkan generasi emas bangsa.



Tags :