Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Memaknai Earth Hour


   Share :



Oleh: Afut Syafril
       Berbagai gaya hidup serta gerakan sosial mulai latah digalakkan oleh generasi muda. Beberapa di antaranya memiliki dampak positif pada kepentingan eksistensi milenial. Salah satu gerakan sosial yang sedang galak dikampanyekan adalah "Earth Hour", lalu apakah earth hour itu sendiri? Apakah sekadar memadamkan lampu secara serentak? Earth Hour adalah gerakan lingkungan yang diinisiasi WWF secara global. Gerakan ini bertujuan memberi inspirasi dan memberdayakan individu, institusi bisnis, organisasi dan pemerintah untuk mengambil tindakan nyata terhadap lingkungan alam/bumi.
       Sebagai salah satu kampanye perubahan iklim "open source" pertama, kampanye ini telah berkembang dari sebuah kegiatan simbolis di satu kota pada tahun 2007 ke gerakan lingkungan akar rumput terbesar di dunia yang mencakup lebih dari 7.000 kota dan 180 negara dan wilayah. Ketika gerakan ini tumbuh dari kegiatan pemadaman lampu selama 1 jam, kemudian menjadi simbol komitmen yang lebih luas terhadap planet bumi.
       Lalu apa kaitannya dengan Earth Hour dengan ogranisasi lingkungan hidup dunia? Koordinator Earth Hour Bali Sutan Tantowi kepada Antara menjelaskan bahwa Earth Hour merupakan inisiatif WWF, organisasi konservasi terkemuka di dunia. Pada tahun 2007, WWF memulai Earth Hour sebagai kampanye "open source" untuk melibatkan masyarakat yang lebih luas dalam mengambil sikap melawan perubahan iklim.
       Penciptaan Earth Hour adalah langkah jembatani kesenjangan antara ruang-ruang di konferensi (ruang formal) dan ruang-ruang keluarga (ruang informal dan privat) memastikan upaya untuk mengatasi tantangan dan isu lingkungan terbesar di planet ini, termasuk orang-orang yang merupakan bagian dari lingkungan itu sendiri. Pada tahun 2018, pelaksanaan Earth Hour pada hari Sabtu (24-3-2018) mulai pukul 20.30 hingga 21.30 di zona waktu lokal setempat.
       Negara yang berbeda mengorganisasi acara sesuai dengan isu lingkungan yang mereka paling relevan dengan mereka. Pada tahun lalu, lebih dari 7.000 kota dan 180 negara serta wilayah berpartisipasi dalam Earth Hour untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap planet yang sehat.
       Sejak 2007, Earth Hour WWF telah memobilisasi jutaan orang di seluruh dunia untuk mendorong aksi untuk melindungi planet Bumi dan keanekaragaman hayatinya terhadap perubahan iklim. Dampak yang dihasilkan, di antaranya berhasil mendesak diterbitkannya undang-undang baru untuk perlindungan hutan dua kali ukuran Prancis di Rusia pada tahun 2013. Selain itu, memobilisasi dukungan publik untuk penciptaan 3,5 juta hektare yang dilindungi laut di Argentina. Berikutnya, penciptaan hutan Earth Hour seluas 2.700 hektare di Uganda, dan menanam 17 juta pohon di Kazakhstan.
       Salah satu koorporasi yang bermitra dengan kampanye lingkungan ini adalah Angkasa Pura 1. Angkasa Pura I mendukung kegiatan yang sejalan dengan visi dan misi perusahaan, terutama dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup. Melalui dukungan terhadap kegiatan Earth Hour di 13 bandara AP I kami berkomitmen dalam mengurangi pemanasan global dan dampak perubahan iklim melalui penghematan energi demi lingkungan hidup yang lebih baik.
       Sebanyak 13 bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I turut andil pada kegiatan Earth Hour 2018, yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Bandara Adi Soemarmo Solo, Ahmad Yani Semarang, Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Internasional Lombok, Bandara El Tari Kupang, Bandara Pattimura Ambon, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, dan Bandara Frans Kaisiepo Biak.
       Ratusan warga negara asing (WNA) juga sempat berpartisipasi dalam kampanye peduli lingkungan earth hour di Bandara Ngurah Rai, Bali. Berdasarkan pantauan Antara, ratusan WNA yang berlalu-lalang di terminal internasional Bandara Ngurah Rai. Mereka meluangkan waktu untuk menandatangani petisi kampanye Earth Hour.
       Selain itu, mereka menukarkan kantong plastik yang dibawa dengan kantong tas kain sebagai bentuk dukungan pengurangan sampah plastik. Mereka berasal dari Swiss, Tiongkok, Belanda, Kanada, dan Jerman. Perseroan Terbatas Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menyiapkan sebanyak ratusan tas kain sebagai upaya kampanye lingkungan mengurangi sampah plastik. "Ada lebih dari 300 kantong kain kami siapkan untuk menggantikan kantong plastik yang digunakan oleh pengunjung," kata Co GM Bandara Ngurah Rai Rahadian Dewanto Yogisworo.
       Kampanye  bertujuan untuk peduli terhadap lingkungan. Pasalnya, sudah banyak limbah plastik yang susah terurai berserakan di Pulau Bali. Dengan adanya gerakan kampanye tersebut, diharapkan masyarakat nasional ataupun internasional dapat sadar diri untuk turut mengurangi sampah plastik.
       Dalam rangka earth hour, pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai memadamkan listrik di beberapa titik bandara itu selama 1 jam untuk mendukung kampanye penghematan energi global earth hour. "Kami ingin berkontribusi mengurangi pemanasan global, perubahan iklim serta mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik," kata Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I,  Devy W.A. Suradji.
       Menurut Devy, pemadaman selama 1 jam pada hari Sabtu (24-3-2018) mulai pukul 20.30 - 21.30 WITA di beberapa titik, seperti di papan nama bandara, perkantoran dan beberapa tempat usaha yang ada di bandara. Meski dilakukan pemadaman, tidak mengganggu aktivitas operasional dan pelayanan di bandara itu karena dilakukan secara simbolis di beberapa titik tertentu.
        Penerangan listrik di sejumlah titik vital tetap dinyalakan karena mendukung kinerja penerbangan.  Sebagai bentuk sosialisasi, pengelola bandara menayangkan video Earth Hour di area publik di bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura I mulai 20 hingga 24 Maret 2018.
 



Tags :