Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Menambung Air Di Tanah


   Share :


Seorang petani mengambil air di sumur untuk menyiram tanaman jagung di Jalan Kerta Dalem, Sidakarya, Denpasar Selatan belum lama ini.

Wirnata


Oleh: Budi Santoso
       Siapa sangka ternyata tabungan air di dalam tanah ternyata lebih murah biayanya dan dampaknya jika dihitung secara ekonomi sangat luar biasa. Sebagai contoh dengan 1.000 sumur resapan di daerah tangkapan air akhirnya membuat mata air Senjoyo di kaki Gunung Merbabu bisa naik debitnya sampai 300 liter per detik atau sama saja dengan 10 miliar liter per tahun atau nilainya setara dengan Rp 100 miliar per tahun jika air yang diproduksi dihargai Rp 10 per liter. Itu belum dihitung dengan debit sumur gali masyarakat yang naik puluhan kali lipat dan debit air sungai untuk irigasi.
       Sementara biaya membuat sumur resapan hanya Rp 2,5 juta per unit atau sekitar Rp 2,5 miliar untuk 1.000 unit sumur resapan. Betapa mudahnya alam direkayasa untuk kepentingan manusia dengan modal sedikit tetapi hasil diberikan luar biasa. Inilah mengapa tema Hari Air Internasional pada 22 Maret 2018 mengambil tema Alam untuk Air.
       Teknologi menabung air dengan sumur resapan sangatlah sederhana yang penting air diberikan jalan untuk kembali ke dalam tanah dan tidak dibiarkan menjadi air limpasan permukaan yang berpotensi banjir di daerah hilir.  Dengan sumur resapan ini maka air saat hujan bisa dikembalikan ke tanah, dampaknya cadangan air tanah meningkat, limpasan air hujan berkurang, dan menjaga kesuburan tanah karena lipmasan air biasanya membawa serta humus yang kaya zat nutrisi untuk pertumbuhan tanaman.
       Di semua daerah cadangan air tanah dari waktu kewaktu mengalami penurunan jika tidak dilakukan upaya rekayasa karena banyak perubahan lingkungan akibat munculnya pemukiman, pabrik atau hutan yang dikonversi menjadi lahan pertanian. Aktifitas untuk mengambil air tanah baik untuk konsumsi keluarga maupun industry tidak sebanding dengan masuknya kembali air ke dalam tanah.  
       Asep Mulyana, ahli sumber daya air dari Program Pelayanan Air, Sanitasi dan Kebersihan di Daerah Perkotaan di Indonesia (IUWASH) mengibaratkan air di dalam tanah sebagai dispenser. Karena wajar akibat degradasi daerah tangkapan air maka banyak mata air yang kemudian mengering dan menghilang. Artinya sumber air terus terkuras tetapi apa yang dikembalikan sangat sedikit karena lapisan tanah sudah tertutup banyak pemukiman, infrastruktur, atau pori tanah yang sudah mengeras akibat timbunan pupuk kimia.
       Wajar jika Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yuliarto Joko Putranto pada Lokakarya Nasional Konservasi Air Tanah di Jakarta, Kamis (22/3) mengungkap selama 10 tahun terakhir sekitar 20 sampai 40 persen mata air di Indonesia mengering.
       Laju ini akan semakin cepat jika tidak ada upaya menambung air ke dalam tanah melalui berbagai perlakukan seperti penghijauan dan membuat sumur infiltrasi air seperti biopori, sumur resapan, ataupun kolam retensi. Yuliarto mengungkapkan, inventarisasi terakhir jumlah mata air di Indonesia tercatat 10.321 namun laju hilangnya mata air mencapai 20 sampai 40 persen dalam kurun waktu 10 tahun. Ia mencontohkan penelitian soal mata air di sekitar Kota Surakarta mengungkap hilangnya mata air mencapai 40 persen selama kurun waktu 10 tahun terakhir.
       Program meningkatkan cadangan air tanah melalui penanaman pohon dan sumur resapan harus terus digalakkan dan pemda harus berani membuat perda untuk melindungi cadangan air tanah. Penghijauan di daerah tangkapan air terus digalakkan dengan penanam 15 jenis tanaman yang sudah direkomendasikan Kementerian LHK sangat efektif memperbaiki daerah tangkapan air.
       Data dari Kementerian LHK mengungkap, saat ini sudah terbangun sekitar 11.000 sumur resapan di Indonesia, namun jumlah itu sangat kecil dibanding kebutuhan untuk menyelamatkan cadangan air tanah. Yuliarto sangat mengapresiasi sejumlah desa yang berhasil membantu mencadangkan air tanah melalui program sumur resapan yang dibantu pendanaannya oleh sejumlah LSM dan perusahaan.
       Hasil ujicoba sumur resapan di sejumlah desa telah terbukti mengurangi limpasan air hujan dan mampu meningkatkan cadangan air tanah sekitarnya, termasuk menyelamatkan mata air dari penurunan debit air seperti yang dilakukan warga di dua yaitu Desa Patemon, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang dan Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
       Kepala Desa Patemon Puji Rahayu juga mengungkapkan, keberadaan sekitar 320 sumur resapan di desa mereka itu mampu meningkatkan cadangan air tanah di desa itu sehingga sumur warga mempunyai debit air yang melimpah. Bahkan mata air Senjoyo yang berada di bawah desa itu juga ikut terimbas dengan naiknya debit air sampai 300 liter per detik.
       Melihat hasil yang nyata, Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa kemudian memasukkan program sumur resapan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RJPMDes) 2013-2019 serta dibuat Perdes Nomor 3/2015 dimana warga yang mempunyai bangunan wajib memiliki sumur resapan.  
       Puluhan tahun desa itu terkena mitos tak bisa dibuat sumur gali karena tidak ada air yang keluar, tetapi dalam jangka dua tahun mitos itu hilang. Saat ini ada delapan sumur gali yang dibangun dengan debit yang luar biasa. Rata-rata satu sumur bisa digunakan untuk 15 sampai 20 keluarga.
       Pemerintah desa juga mengalokasikan dana untuk pembangunan dan perawatan dua sumur resapan per tahun dan ada kewajiban perusahaan swasta yang ada di desa itu wajib membangun sumur resapan dengan volume 20 meter kubik. Jumlah sumur resapan yang dibangun dengan dana desa dan swadaya sejak 2015 sampai 2017 mencapai 24 unit dengan ukuran 2x2 meter dan kedalaman dua meter atau kapasitas tamping 8 meter kubik.
       Pada tahun 2018 direncanakan 8 sumur resapan dimana lima sumur dibangun atas biaya pemilik pabrik yang ada di Patemon. Joko Waluyo, tokoh masyarakat setempat dan Ketua BPD Kabul Budiono sepakat untuk mendukung program 1.000 sumur resapan yang digagas kepala desa artinya ada satu sumur resapan setiap keluarga.
       Hal senada diungkap Bahrudin, Ketua Dewan Pertimbangan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thoyibah (SPPQT) mengungkap, sebelum ada sumur resapan para petani selalu rebut soal pembagian air karena debit air sungai terbatas, namun setelah terbangun sumur resapan kali-kali kecil juga airnya melimpah dan petani tidak lagi berebut air.
       SPPQT saat ini terus mengkampanyekan sumur resapan dan konservasi lahan ke sejumlah daerah dan telah mempunyai anggota di 11 kabupaten meliputi 600 kelompok di 130 desa. Organisasi itu terus menggalakkan konservasi tanah melalui penggunaan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia yang dianggap semakin memiskinkan tanah.
       Pengalaman ditertawakan warga lain saat menginisiasi sumur resapan juga dialami Muklis, aparat Desa Claket, di Kecamatan Pacet, Mojokerto. Namun Muklis tetap jalan terus dan bersama LSM Garda Penyelamat Sumber Air mampu membangun 600 sumur resapan serta menggalakkan kegiatan konservasi lahan seperti penanaman pohon di daerah tangkapan air.
       Saat ini, warga desa itu menikmati hasilnya karena jumlah air yang dihasilkan oleh mata air di kawasan hulu menjadi lebih baik dan masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan air.
       Dua PDAM yang menggunakan mata air mengaku terbantu dengan dampak membaiknya debit mata air. PDAM Salatiga terbantu dengan penambahan debit mata air Senjoyo, sementara PDAM Mojokerto terbantu dengan meningkatnya debit mata air Jubel yang berada di Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet. Bahkan PDAM Mojokerto mampu menambah 3.000 pelanggan baru. Tri Dewi Virgiyanti, Direktur Perkotaan, Permukiman dan Perumahan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mengatakan, kolam infiltrasi seperti sumur resapan adalah teknologi yang menjanjikan yang dapat membantu meningkatkan jumlah air tanah.
       Ia mendorong setiap pemda untuk membuat perda perlindungan air tanah sekaligus membuat percontohan program sumur resapan di desa-desa yang selama ini kesulitan air bersih. Ayo menabung air sebanyak-banyaknya, jangan sampai mata air yang ada kemudian menjadi air mata anak cucu yang menangis karena kesulitan mendapatkan air bersih.



Tags :