Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Melestarikan Bahasa Daerah Agar Tidak Punah


   Share :


net


Oleh: Desi Purnamawati
       Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara lazim didengar dalam percakapan sehari-hari, bahkan tidak jarang anak-anak muda menggunakan bahasa asing atau bahasa-bahasa "gaul' dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa sejatinya menjadi jati diri suatu bangsa, begitu juga dengan daerah yang memiliki bahasa lokal masing-masing.
       Orang akan mudah dikenali dari mana asalnya dari logat bicara dan bahasa daerahnya. Berdasarkan data 2011 sebanyak 79,5% masyarakat Indonesia sehari-hari masih berkomunikasi dengan bahasa daerah. Masih tingginya pemakaian bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari tentunya menjadi salah satu langkah pelestarian bahasa daerah itu sendiri.
       Meski cukup tinggi pemakaian bahasa daerah dalam rumah tangga dan sehari-hari, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat 11 bahasa daerah telah punah. Bahasa yang punah tersebut berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.
       Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Sunendar mengatakan, selain mendata bahasa-bahasa yang telah punah, badan tersebut juga mengklasifikasikan status bahasa daerah yaitu 19 bahasa daerah masih aman, 16 bahasa daerah stabil, dua bahasa mengalami kemunduran, 19 bahasa terancam punah, dan empat bahasa kritis.
        Bahasa daerah yang termasuk dalam status kritis atau sangat terancam punah yaitu bahasa Reta di NTT, Saponi di Papua, Ibu di Maluku dan Meher di Maluku Tenggara Barat. Sedangkan 19 bahasa daerah yang terancam punah yaitu bahasa Hulung dan Samasuru dari Maluku, Mander, Namla, Usku, Maklew/Makleu, Bku, Mansim Borai di Papua. Bahasa Ponosokan/Ponosakan dan Konjo di Sulawesi, Bahasa Bajau Tungkal Satu, Lematang di Sumatera, Bahasa Dubu di Keerom Papua, Bahasa Irarutu di Fakfak Papua, Podena di Sarmi Papua.
       Bahasa Sangihe Talaud di Minahasa Sulawesi Utara, Bahasa Minahasa di Gorontalo, Bahasa Nedebang di NTT dan Bahasa Suwawa di Bone Bolango, Gorontalo. Dadang mengatakan masih banyak bahasa daerah yang belum berhasil teridentifikasi seperti di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat yang belum semua teridentifikasi. "Di Papua, baru 380 bahasa yang berhasil kami identifikasi tapi itu juga belum berhasil karena bisa jadi antara satu pulau dengan yang lain tidak saling memahami. Berbeda dengan di Jawa, meski berbeda tapi bisa saling memahami," kata Dadang.
       Beberapa alasan kenapa bahasa daerah punah dan penutur muda terus berkurang karena sikap masyarakat terhadap bahasa daerah itu masih belum terlalu positif," kata Dadang. Anak-anak muda merasa lebih bergengsi jika menggunakan bahasa asing atau Bahasa Indonesia dan mengabaikan bahasa daerahnya. Bahkan menurut Raja Negeri Hitu di Maluku Tengah, Salhana Pelu proses kepunahan bahasa di Maluku khususnya di Ambon sudah terjadi sejak lama tepatnya sejak masuknya penjajah Portugis.
       Seiring dengan perkembangan zaman, sebagian besar warganya terutama yang berusia 40 tahun ke bawah sudah mulai tidak bisa berbahasa daerah, mereka hanya mampu berbahasa daerah secara pasif.  Untuk itu dilakukan berbagai upaya konkret agar bahasa daerah di Negeri Hitu hidup kembali. Di antaranya mewajibkan berbahasa daerah ketika hari libur bersama keluarga dan membuat beberapa peraturan negeri.  "Dengan cara ini saya rasa kita bisa menyelamatkan generasi muda dan menjaga identitas suatu daerah," kata Salhana Pelu.
       Ketika bahasa daerah mulai banyak yang punah, maka keanekaragaman bahasa semakin terancam karena semakin banyak bahasa yang hilang. UNESCO menengarai, setiap dua minggu satu bahasa hilang, setara dengan hilangnya warisan budaya dan intelektual bangsa itu sendiri.
       Hingga kini,  Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa baru identifikasi dan dokumentasikan 652 bahasa daerah dari 2.452 daerah pengamatan. Dari 652 bahasa tersebut, baru 71 bahasa yang telah dipetakan vitalitas atau daya hidup. Maka diketahui status bahasa yang punah, kritis, terancam punah maupun yang aman. Program unggulan untuk mewujudkan pelestarian bahasa dan sastra daerah yaitu lewat pemetaan, konservasi dan revitalisasi untuk bahasa dan sastra.
       Pada 2018, pemetaan bahasa akan dilakukan di enam daerah pengamatan di Papua dan Papua Barat, dan masing-masing satu daerah pengamatan di Maluku dan NTT.  Kerja sama dengan pemerintah daerah sangat penting dilakukan karena pemerintah daerah yang paling tahu kondisi bahasa di daerah. Karena itu, berbagai upaya dilakukan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melestarikan bahasa daerah.  Misalnya membuat kamus bahasa daerah, masukan agar bahasa daerah menjadi muatan lokal di sekolah, mengadakan pelatihan dan penyuluhan serta merancang program yang cocok terutama untuk generasi muda agar jumlah penutur muda tidak terus merosot.
       Sikap positif dari keluarga juga perlu ditumbuhkan untuk berbahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Dirjenbud Hilmar Farid menyatakan seharusnya semua Pegawai Negeri Sipil di kantor pemerintahan di daerah mampu menguasai bahasa lokal. Sejauh ini bahasa daerah belum mendapatkan perhatian yang cukup dalam proses pembangunan. Karena itu penting untuk hidupkan kembali bahasa daerah terutama bahasa ibu dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari sehingga generasi muda tetap menjaga jati diri mereka.

 



Tags :