Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Kementerian LHK Riset Jamur Morel Rinjani


   Share :


net


Oleh: Awaludin
       Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem bekerja sama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melakukan riset jamur morel di Taman Nasional Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
       Peneliti Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Dr Maman Turjaman, di Mataram, Senin, mengatakan riset tersebut bertujuan untuk memperoleh teknik budi daya jamur morel Rinjani, baik secara in situ dan ex situ. "Kami akan melakukan uji coba budi daya di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, dengan lokasi tertentu yang memenuhi syarat untuk jamur bisa tumbuh. Ada 1.000 media tanam yang sudah kami siapkan," katanya usai mengekspose hasil uji laboratorium jamur morel Rinjani, di kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR).
       Jamur morel yang akan diuji coba untuk dibudidayakan adalah jenis morel Rinjani (morchella crassipes). Penamaan salah satu flora Gunung Rinjani tersebut berdasarkan hasil riset dan pengecekan base jamur morchella di National Center For Biotechnology (NCBI). Jamur merupakan hasil temuan dari tim BTNGR ketika melakukan pemantauan rutin di dalam kawasan pada 2009.
       Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke P3H Bogor, untuk diteliti lebih lanjut. Morel adalah jenis jamur termahal kedua di dunia, setelah jamur truffles. Pihaknya termotivasi lakukan riset pada 2017. Peneliti Madya P3H Bogor Asep Hidayat, menambahkan jamur morel sudah dibudidayakan secara massal di Eropa, sejak seratusan tahun silam. Namun para peneliti terlebih dahulu melakukan riset sebelum menyebarkan teknologi budi daya kepada masyarakat luas. Selain di Eropa, para peneliti jamur di Tiongkok, juga melakukan riset tentang flora yang hanya bisa tumbuh di daerah tropis tersebut sejak 1980. Pada 1992, para peneliti menemukan formula untuk budi daya, namun baru pada 2012 dilakukan budi daya untuk komersial.
       Kasubag  Tata Usaha BTNGR, Dwi Pangestu berharap uji coba budidaya jamur morel Rinjani di dalam kawasan konservasi bisa membuahkan hasil yang positif. Dengan begitu, flora tersebut bisa menjadi salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang bisa dimanfaatkan dan dibudidayakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan Gunung Rinjani. "Jamur morel Rinjani tersebut merupakan salah satu HHBK potensial di dalam kawasan, selain pakis, rumput, tanaman obat, madu dan buah rotan," katanya.



Tags :