Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Biskuit Berkalsium Dari Kolang Kaling


   Share :


net

Oleh: Indra Setiawan/Willy Irawan

Lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membuat biskuit kaya kalsium dari kolang kaling yang dinamakan Biskuit Kolang Kaling (Bikoling).Salah satu mahasiswa yang membuat biskuit itu Ika Maya Megawati Putri ditemui di Surabaya, Sabtu (17/2) mengatakan, dirinya membuat camilan yang dikemas dalam kaleng bersama dua mahasiswa D3 kebidanan Fakultas Keperawatan dan kebidanan (FKK) dan dua mahasiswa S1 Gizi Fakultas Kesehatan.

Ke-4 temannya; Shofia Rizkyanti, Siti Khunainatul Muarofah dari D3 kebidanan Fakultas Keperawatan dan kebidanan (FKK) dan Imam Sholichin serta Eka Zulfiana Yussyifa dari S1 Gizi Fakultas Kesehatan."Kolang kaling adalah salah satu bentuk tumbuhan yang kaya akan kalsium yang belum diketahui khasiatnya oleh banyak masyarakat," kata Ika.

Kelompoknya menggabungkan ilmu yang mereka tekuni untuk membuat camilan kaya kalsium itu untuk segala usia yang memungkinkan balita hingga dewasa konsumsi.Imam yang merupakan mahasiswa Ilmu Gizi mengungkapkan manfaat biskuit itu untuk bayi adalah bisa membantu pertumbuhan tulang. Teksturnya yang renyah juga bisa membantu melatih kekuatan gigi anak.

Bagi usia remaja biskuit ini dapat digunakan sebagai program diet. Sebab terdapat kandungan rendah kalori yang menyebabkan ketahanan kenyang lebih lama. Usia dewasa, bisa sebagai asupan kalsium sehingga tidak cepat keropos tulang dan keriput."Dengan konsumsi Bikoling setiap hari dapat mengurangi berat badan hingga satu sampai tiga kilogram dalam satu bulan," ujarnya.

Mahasiswi lain,  Siti Khunainatul menambahkan, pembuatan Bikoling butuh berbagai bahan layaknya pembuatan biskuit. Mulai dari gula halus, sagu, mentega, coklat, tepung tapioka dan kolang kaling. "Gula mentega dimikser hingga halus dan berwarna putih. Lalu tambahkan kolang kaling yang sudah diblender. Dan tepung terigu dan sagu. Seluruh bahan di mixer hingga kalis. Selanjutnya, siap dicetak dan dioven. Lalu cetak pakai plastik," ujar mahasiswa Diploma Kebidanan ini.

Meski terlihat sederhana, namun Naina menyatakan, mereka membutuhkan waktu untuk menentukan komposisi yang tepat. Hal itu karena kolang-kaling yang digunakan mengandung banyak kadar air."Kami harus pakai banyak kolang-kaling karena harus memisahkan sari dan ampas. Kami ambil sarinya saja, karena kami ingin mengambil kalsiumnya. Kalau pakai ampas efeknya di adonan tidak bisa dicetak karena kadar airnya tinggi," tuturnya.

Untuk menentukan komposisi mereka bahkan menambahkan sagu yang awalnya tidak dalam resep. Hingga kini, kelima anggota tim berbagi tugas untuk produksi biskuit di rumah Naina. Sebab, tahun lalu mereka bisa produksi hingga 300 kemasan kaleng dan pouch biskuit tiap bulan. "Kalau awal kami selalu ready sembilan kaleng untuk penjualan online, tapi sekarang hanya made by order karena terbatasnya waktu kami," katanya.

Produk buatan mahasiswa Unusa ini juga mendapat bantuan hibah dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebesar Rp10 juta.

 

Lima Hal Perlu Disiapkan UKM Saat Rambah Online

Teknologi mengubah pengalaman fisik menjadi digital. Hal ini terjadi pada hampir semua bisnis, tak terkecuali pada UKM. Untuk navigasi alur dan desain bisnis menuju perubahan digital, penasihat senior dalam komite roadmap ecommerce Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Hadi Kuncoro, mengatakan UKM perlu perhatikan lima hal. "Banyak platform ecommerce saat ini yang telah mencoba membuka market bagi UKM, tapi belum menyelesaikan poin isu lain. Ini waktunya untuk membantu UKM," kata dia dalam acara InternetRetailing Expo Indonesia 2018 di Jakarta, Rabu.

Lima poin yang dimaksud Hadi adalah pendanaan, pengetahuan bisnis, pemenuhan administrasi, teknologi dan jaringan. Menurut Hadi, ketika UKM telah mendapat tempat di pasar, tantangan selanjutnya adalah perluas dan perbanyak jumlah produksi.

Hal senada disampaikan CEO Blibli.com Kusumo Martanto yang menekankan perlunya edukasi bagi UKM, yang memulai bisnis di platform online, untuk mengerti pemasaran digital. "Bagi banyak orang berjualan online itu mudah, tinggal taruh barang dan pasti ada yang beli. Ini perspektif yang salah. Berjualan online itu sama seperti offline," ujar Kusumo.

UKM yang beralih ke offline juga harus berusaha meyakinkan pelanggan dengan menghadirkan pengalaman fisik secara digital. Misalnya, foto yang bagus dan diskripsi yang dapat menggambarkan barang dengan jelas. "Banyak UKM yang punya produk bagus tapi kadang mereka tidak perhatikan packaging. Mereka juga tidak mau mengeluarkan uang lebih untuk itu," kata Kusumo.

Meski demikian, CEO Zalora Indonesia, Anthony Fung, mengatakan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat bagi UKM untuk merambah bisnis online. "Sekarang sudah banyak toko retail modern (online) sebagai channel platform baru bagi UKM. Bahkan, saat ini sosial media juga memungkinkan UKM untuk berjualan secara online. Jika semua stakeholder bekerja sama, pergerakan ini tetap berlangsung hingga 5 sampai 10 tahun," ujarnya.



Tags :