Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Keamanan Siber Yang Bakal Meningkat


   Share :


net

Oleh: D Dj. Kliwantoro

Total  pengguna internet di Indonesia, terus  mengalami peningkatan. Survei yang dilakukan sepanjang 2016 itu mencatat,  132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet dari total penduduk sebanyak 256,2 juta orang. Padahal survei APJII 2014, tercatat 88 juta pengguna internet.  Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat lebih dari 132 juta pengguna internet di  Indonesia. 

Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Centre (CISSReC), Pratama Persadha. Naiknya pengguna internet disebabkan makin luasnya cakupan internet yang diikuti oleh makin terjangkaunya harga smartphone.

Gawai satu ini menjadi alat utama dari interaksi dan komunikasi netizen, khususnya lewat media sosial dan aplikasi pesan singkat. Naiknya pemakai internet dengan drastis ini ternyata juga diikuti dengan beberapa peristiwa yang berkait langsung dengan keamanan di dunia maya. Selama 2016, misalnya, ada masalah pada aplikasi GoJek sehingga beberapa kali ada peristiwa hilangnya saldo GoPay pengguna.

Belum lagi, kata Pratama yang juga pakar keamanan siber, Yahoo yang diretas dan 1.000.000.000 akun penggunanya terekspos pihak ketiga. Melihat semangat sumber daya manusia (SDM) lokal dalam menghasilkan aplikasi dan layanan internet, relatif cukup besar, perlu diperkuat dengan kesadaran untuk membangun sistem yang aman pula.

Tahun 2016 merupakan sebuah masa pembelajaran. Aplikasi dan layanan internet lokal harus membuktikan bahwa keamanan juga menjadi perhatian serius. Karena itu, pada  2017 fokus pada keamanan siber  yang kian meningkat di semua sektor, terutama perbankan yang mulai mengakrabi fintech.

Masalah keamanan perbankan memang ramai sepanjang 2016. Setidaknya beberapa peristiwa hilangnya uang nasabah menghiasi media-media nasional. Pencurian dana nasabah di Batam dan Mataram setidaknya mengungkit kembali betapa lemahnya keamanan sistem anjungan tunai mandiri (ATM) perbankan nasional. Setidaknya, menurut Pratama, kartu yang masih menggunakan pita magnetik dan mesin ATM yang masih memakai Windows XP adalah dua hal yang paling mudah dimanfaatkan pihak ketiga untuk mencuri dana nasbah.

Pada 2017, Pemerintah harus memperkuat regulasi untuk memaksa perbankan melakukan upgrade sistem ATM demi keamanan nasabah. Kartu ATM dengan pita magnetik rawan pencurian data, belum lagi mesin ATM berbasis Windows XP yang sangat rawan karena tidak mendapat dukungan keamanan lagi dari Microsoft.

Pakar keamanan siber itu menilai, perlu percepat migrasi ke kartu ATM berbasis chip (cip). Begitu pula, pembaharuan mesin ATM. Pasalnya, mesin ATM ini menjadi pintu masuk para pencuri ketika mengambil data nasabah. Pratama perkirakan pada 2017 isu keamanan siber akan makin mendapat tempat, apalagi pada tahun 2018 dan seterusnya.  

Serangan DDoS, Ransomware dan email phising diperkirakan masih menjadi masalah terbesar masyarakat dunia di wilayah siber. Selain itu poor patch management yang memungkinkan lubang keamanan terbuka karena kelalaian manajerial. "Ini semua bisa dikurangi dengan peningkatan keamanan siber secara kultural sekaligus didorong oleh Pemerintah," kata Pratama yang pernah menjadi Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Pengamanan Sinyal Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg).

Selain isu keamanan, di pertengahan sampai pada akhir 2016, isu tentang aplikasi dan layanan internet asing juga menjadi sorotan. Hal ini terkait keberadaan raksasa teknologi, seperti Google dan Facebook. Sebaiknya Pemerintah mendorong betul berkembangnya industri aplikasi dan layanan internet buatan dalam negeri. Hal ini untuk mendorong masyarakat sedikit demi sedikit terlepas dari ketergantungan pada raksasa teknologi asing, seperti Google dan Facebook.

Fintech (financial technology) diprediksi bakal makin berkembang seiring dengan keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengeluarkan regulasi tentang fintech di akhir tahun 2016. Fintech merupakan platform digital yang memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi. Sejumlah hal yang masuk kategori fintech yakni pembayaran, transfer, jual beli saham, investasi online dan peminjaman uang secara online.

Fintech memberi berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan keuangan kapan saja dan di mana saja.  Berbagai macam platform fintech sudah bermunculan di Indonesia. Mobile banking, e-banking, rekening ponsel, online payment  adalah beberapa contoh dari fintech yang sudah sering digunakan saat ini. Ditambah maraknya pembayaran aplikasi transportasi online yang menggunakan kartu kredit dan dompet digital.

Fintech itu adalah keniscayaan, tidak bisa dihindari dan menjadi primadona pada tahun 2017-2018. Fintech akan berkembang sangat pesat seiring kian meluasnya penggunaan internet dan layanan komunikasi lain. Perkembangan pemakaian fintech di Indonesia relatif bagus. Survei Fintech Indonesia 2016, perkembangannya sudah mencapai 78%. Sebagian adalah layanan payment sebesar 43%. Layanan itu makin banyak dan digemari, apalagi anak muda sekarang sudah menjadikan smartphone dan internet sebagai kebutuhan primer.

Penyedia layanan Fintech harus memberi jaminan keamanan lebih bagi para pengguna. Hal ini tidak berbeda dengan perbankan yang masih menjadi sasaran peretas. Salah satu solusinya, penggunaan teknologi enkripsi.  Pemerintah pun, perlu mendukung dengan membuat regulasi yang melindungi konsumen jika sewaktu-waktu terjadi hal yang merugikan. Juga perlu dilakukan pengawasan dan pengaturan terhadap semua layanan fintech  agar tidak terjadi hal-hal yang menyimpang dan menimbulkan masalah.

Teknologi yang akan mulai banyak digunakan pada 2017-2018 adalah digital signature. Teknologi ini sebenarnya sudah banyak dipakai di luar negeri, terutama untuk permudah melakukan agreement, baik antar swasta maupun antar pemerintah. Pemerintah diharapkan bisa mengadopsi regulasi untuk mendukung digital signature.

Teknologi itu  secara langsung bisa mempercepat laju investasi di Tanah Air karena memotong banyak waktu dan anggaran. Perjanjian tidak lagi harus datang dan ditandatangani kedua pihak. Namun, dengan teknologi ini masing-masing pihak bisa memastikan bahwa dokumen autentik dan bisa segera melakukan persetujuan.



Tags :