Welcome To Website PT. Karya Pak Oles Tokcer

Menjaga Budaya Melalui Pasar Tradisional


   Share :


Wisatawan asing membeli rempah di Pasar Badung, Denpasar

Wirnata


Oleh: Wuryanti Puspitasari
       Bagi sebagian orang, besar kemungkinan membeli kebutuhan sehari-hari di pusat belanja modern terasa lebih menyenangkan. Suasana yang bersih, nyaman, dan bernuansa kekinian, membuat sebagian masyarakat betah berlama-lama, membeli ini-itu di pusat belanja modern. Namun, di balik gemerlap kemegahan pusat belanja modern, ada pasar tradisional yang harus dijaga keberlangsungannya. Hal itu mengingat pasar tradisional penuh dengan nilai-nilai lokal. Pasar tradisional merupakan salah satu simbol budaya di Tanah Air.
       Sejumlah upaya perlu dilakukan, agar eksistensi pasar tradisional tidak hilang tergerus zaman. Agar budaya tawar menawar yang menjadi warna relasi sosial kemasyarakatan di negeri ini, tidak terlupakan. Salah satu upaya, adalah melakukan revitalisasi pasar. Dan upaya tersebut, memerlukan peran dari pemerintah daerah. Misalnya, di Kabupaten Purbalingga. Bupati Purbalingga Tasdi mengatakan pemerintah kabupaten akan merevitalisasi sejumlah pasar tradisional yang ada di wilayah tersebut. Pembangunan pasar tradisional bertujuan agar eksistensi pusat perbelanjaan warisan nenek moyang bangsa tersebut tidak kalah bersaing dengan pasar modern.
       Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Kiky Srirejeki mengatakan revitalisasi pasar merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional. Upaya tersebut meliputi perbaikan fisik pasar dan perbaikan pengelolaan atau manajemen pasar. Dengan demikian, ada dua hal penting yang mendasari revitalisasi pasar, yakni dengan revitalisasi pasar akan ada perbaikan bangunan pasar secara fisik. Harapannya adalah para pedagang dan pembeli menjadi lebih nyaman bertransaksi di pasar tradisional.
       Melalui upaya itu juga, citra pasar tradisional yang terkesan tidak nyaman akan bisa diperbaiki, lalu berdampak terhadap peningkatan jumlah pembeli dan kunjungan masyarakat. Dampak yang lebih besar, peningkatan kegiatan ekonomi formal dan nonformal melalui transaksi di pasar tradisional. Selain percantik fisik pasar, revitalisasi pasar juga memiliki misi lain yang tidak kalah penting, yakni memperbaiki manajemen pasar.
       Dari perbaikan manajemen pasar itulah, akan bermuara pada pengelolaan hak dan kewajiban pedagang, serta pembeli, lalu pada akhirnya pelayanan pasar makin mengalami peningkatan, misalnya, tidak ada pungli bagi pedagang kecil, dan lain-lain. Dari situ sudah bisa disimpulkan, betapa pentingnya revitalisasi pasar tradisional. Namun, tetap ada hal yang harus diperhatikan sebelum mulai proses yakni komunikasi dua arah antara pemerintah dan pedagang.
       Langkah itu ditempuh agar tujuan baik merevitalisasi pasar tidak berakhir dengan buruk hanya karena tidak adanya dukungan dari pedagang. Padahal segala sesuatunya bisa dibicarakan. Pemerintah harus lakukan sosialisasi yang optimal. Misalnya membuat forum dengar pendapat pedagang sehingga aspirasi pedagang bisa diakomodasi. Sosialisasi juga tidak hanya pada pedagang tapi juga masyarakat umum sebagai pembeli. Revitalisasi pasar tidak hanya soal perbaikan fisik, akan tetapi juga tata kelola pasar. Karena itu, pemerintah akomodasi alternatif pembiayaan kepada para pedagang sehingga mereka bisa mengakses dana lebih mudah, misalnya dengan membentuk koperasi pedagang.
       Ketua Program Studi S-3 Ilmu Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Abdul Azis menambahkan kegiatan revitalisasi pasar sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dan biasa dilakukan, namun dengan istilah yang berbeda seperti penataan pasar, pengembangan pasar, modernisasi pasar, dan sebagainya. Istilah revitalisasi tersebut cenderung lebih dilekatkan dengan upaya untuk mendorong pasar tradisional tetap bertahan dan mampu bersaing dengan pusat belanja modern.
       Normatifnya, pengembangan pasar ditujukan untuk mampu bersaing dengan ritel modern dan mampu menampung sekian banyak pedagang dalam arti meningkatkan kesempatan kerja. Selain itu, dapat menjadi pusat utama kunjungan masyarakat untuk berbelanja dari semua kelompok pendapatan. Pasar tradisional juga berfungsi sebagai kegiatan sosial budaya, di mana terjadi jalinan sosial antarpedagang, antara pedagang dengan pemasok barang kebutuhan, demikian pula pedagang dengan konsumen akhir.
       Persoalannya, pasar tradisional mendapatkan pesaing yang dikhawatirkan berpotensi besar hilangkan kesempatan ekonomi maupun jalinan sosial tersebut. Dorongan kapitalisme usaha ritel, didukung dengan prasarana infrastruktur dan sarana modern, sekaligus iming-iming keterbukaan investasi, telah berdampak termarjinalisasinya peran pasar tradisional. Hal  itu ditambah perilaku konsumen yang menggeser sebagian preferensi mereka.
       Upaya revitalisasi pasar, tidak hanya penting untuk mengembalikan dan menggerakkan fungsi normatif pasar tradisional, namun juga untuk mendorong meningkatnya fungsi kapital sosial di masyarakat, di tengah dorongan melemahnya sikap egaliter dan jalinan sosial masyarakat modern. Karena itu, kegiatan revitalisasi pasar tidak hanya pada perbaikan infrastruktur bangunan pasar tradisional, secara total, maupun sebagian.
       Beragam aspek juga diperlukan dalam penataan sistem pasar, baik dalam pembenahan manajemen pedagang, manajemen stok, manajemen keuangan, termasuk juga tata letak. Aspek keamanan, kenyamanan pengunjung, dan pedagang. Penataan pasar diperlukan untuk menjadikan pasar yang lebih bersih, nyaman dan berkonsep modern. Melalui penataan tersebut, diharapkan adanya perubahan paradigma masyarakat tentang pasar rakyat yang terkesan kumuh, agar pengunjung merasa lebih nyaman ketika berbelanja, tanpa mengurangi kearifan lokal pasar tradisional. Akhirnya, indikator dari keberhasilan revitalisasi adalah meningkatnya daya tarik konsumen ke pasar tradisional dan sekaligus kemampuan bersaing dengan pasar modern.
      



Tags :